RESUME MORFOLOGI
KLASIFIKASI KATA
Dosen Pengampu : Diana Mayasari, M.Pd.
Nama : Kholifatur Riski Amalia
NIM : 166008 / PBSI 16C
Klasifikasi atau bisa
disebut jenis kata adalah golongan kata yang mempunyai kesamaan bentuk, fungsi
dan perilaku sintaksis. Dalam tata bahasa tradisional, jenis kata dibedakan
menjadi 10 macam (Aristoteles).
Klasifikasi kata dapat
dibedakan menjadi dua, yaitu :
1. Kelas terbuka
Kelas yang anggotanya dapat bertambah atau berkurang
sewaktu-waktu berkenaan dengan perkembangan sosial budaya yang terjadi dalam
masyarakat penutur suatu bahasa. (Chaer. 2015:65)
a.
Verba
(Kata kerja)
Ciri-ciri
:
1. Sering
diikuti afiks.
Contoh : mengantar,
bertamu, diajak
2. Dapat
didampingi oleh semua adverbia kala (tenses)
yaitu, sedang, akan, hendak, sudah, telah, belum.
3. Dapat
didampingi oleh negasi tidak dan tanpa.
4. Dapat
diperluas dengan kata “dengan+ajektifa”.
Contoh : berbicara
dengan lancar, menghitung dengan teliti.
5. Umumnya
menduduki fungsi predikat.
Contoh : Ajeng (S)
sedang belajar (P) =>{V}
Verba memiliki 10
jenis, yaitu :
1. Transitif
Diikuti oleh objek,
umunya kata kerja ini berprefiks {men-}
Contoh :
-
Alya (S)
membantu (P) ibunya (O)
2. Intransitif
Tidak diikuti oleh
objek, umumnya berprefiks {ber-} ada
juga yang berprefiks {meN-}
Contoh :
-
Siti (S) menangis (P)
-
Siti (S) bekerja (P)
3. Aktif
Menyatakan perbuatan
yang dilakukan oleh subjek. Umumnya berafiks {meN-}
S = pelaku, O =
penderita.
Contoh : Fitri (S)
membaca (P) buku (O)
4. Pasif
Menyatakan perbuatan
objek.
S = penderita, O =
pelaku.
Contoh : Buku (S)
dibaca (P) Fitri (O)
5. Finit
Menyatakan perbuatan.
Umumnya menduduki fungsi predikat.
Contoh : Ayah (S)
memperbaiki (P) rumah (O)
6. Infinit
Menyatakan perbuatan,
namun bukan menduduki fungsi predikat.
Contoh :
-
Mengarang (S) sangat menyenangkan (P)
-
Olahraga (S) sangat menyehatkan (P)
7. Reflektif
Menyatakan perbuatan
yang mengenai pelakunya.
Contoh : Anton (S)
sedang berseragam (P)
8. Resiprok
Menyatakan perbuatan
yang berlawanan atau saling berbalas-balasan
Contoh : Mereka (S)
sedang berbincang-bincang (P)
9. AUS
Kata kerja yang berpa
kata dasar dan tidak berafiks.
Contoh : bangun, lari,
mandi, kerja, pulang, pergi.
10. Kopulatif
Kata kerja yang
berjejeran pada suatu kalimat.
Contoh : Echa (S) pergi
(V) bekerja (V)
b.
Nomina
Nama
dari semua benda dan segala yang dibendakan, atau yang mengandung afiks
-an, pe-, peN-an, ke-an.
Kata
benda dibagi menjadi dua, yaitu :
·
Konkret (dapat dilihat, didengar,
diraba, dirasa)
a. Nama
diri
Contoh : Ali, Jakarta
b. Nama
jenis
Contoh : gunung,
lemari, sungai
c. Nama
zat
Contoh : kayu, logam,
air, udara
d. Nama
himpunan
Contoh : manusia,
masyarakat, hewan, hutan.
·
Abstrak (tidak dapat dilihat, didengar,
diraba)
Contoh : keadilan,
kekerasan, ilmu.
Ciri-ciri
nomina :
1. Diikuti
afiks {-an}, {pe-}, (peN-an), {peN-},
{ke-an}.
Contoh : tulisan,
pedagang.
2. Dapat
didahului kata depan (preposisi)
Contoh : di pasar, ke
pasar, dari pasar, pada dinding.
3. Dapat
didahului dengan kata sandang (Si dan Sang)
Contoh : Si cerdik,
Sang puteri.
4. Dapat
disertai negasi ‘bukan’
Contoh : Bukan rumah
5. Dapat
diikuti oleh kata ganti -ku, -mu, -nya.
Contoh : Bajuku,
rumahmu, pensilnya.
6. Dapat
diperluas dengan kata ‘yang + ajektifa’
Contoh : Anak yang
manja.
7. Dapat
diikuti dengan kata ‘ini dan itu’
Contoh : took ini,
sawah itu.
8. Dapat
menduduki fungsi subjek, predikat, objek.
Contoh : Aminah (S)
=> Adj pergi (P) ke toko (Ket. tempat)
c.
Ajektifa
(Kata keadaan atau kata sifat)
Kata sifat memiliki fungsi sebagai atribut, predikat
dan substansif.
Ciri-ciri :
1. Dapat
didahului kata amat, sangat, terlalu dan agak.
Contoh : sangat panas
2. Dapat
diikuti kata ‘sekali dan benar’
Contoh : banyak sekali
3. Dapat
diulang dan dibubuhi afiks se-nya.
Contoh :
selebar-lebarnya.
4. Memberikan
sifat kepada benda.
Contoh : pot bunga itu
sangat bagus.
Kata
sifat memiliki 3 tingkatan, yaitu :
1. Tingkat
positif (tingkat biasa)
Contoh : Bintang anak
yang cerdas.
2. Tingkat
komparatif (membandingkan)
Contoh : Siska lebih
tinggi daripada Siski.
3. Tingkat
superlatif (tingkat paling)
Contoh : Shanum siswa
tercerdas di kelas kita.
2.
Kelas
tertutup
a. Adverbia
(Kata keterangan)
Dalam berbagai buku tata bahasa sekolah, adverbial
lazim disebut kata keterangan atau kata keterangan tambahan. Fungsinya
adalah menerangkan verba, ajektifa, dan jenis kata lainnya. Berbeda dengan
ajektifa yang fungsinya menerangkan nomina (kata benda). (Chaer. 2015:83)
Adverbia atau kata keterangan dapat
dibagi menjadi tujuh, yakni :
1. Keterangan
tempat
2. Keterangan
waktu
3. Keterangan
aspek (menjelaskan berlangsungnya peristiwa secara objektif)
{sedang, akan, telah,
belum, sering, jarang}
4. Keterangan
tujuan
{agar, supaya, guna,
untuk, buat}
5. Keterangan
kuantitatif (tingkat keseringan suatu peristiwa)
{kira-kira, sering,
cukup, hampir, sedikit}
6. Sebab
{sebab, karena, oleh,
oleh karena}
b. Pronominal
(Kata ganti)
Kata yang berfungsi menggantikan kata benda. Kata
ganti menduduki fungsi subjek atau objek.
Kata ganti terdapat lima jenis,
yaitu :
1. Kata
ganti orang
·
Orang pertama => Tunggal (aku, saya)
=> jamak (kami, kita)
·
Orang kedua (kamu, kau, anda)
·
Orang ketiga (menunjuk orang yang
dibicarakan)
2. Kata
ganti pemilik (empunya) terletak dibelakang kata benda.
·
Kata ganti pemilik untuk orang pertama
Tunggal (aku, saya)
Jamak (kami, kita)
·
Untuk orang kedua
Tunggal
(mu)
Jamak
(kalian)
·
Untuk orang ketiga
Tunggal
(nya)
Jamak
(mereka)
·
Kata ganti penanya (5W+1H)
·
Kata ganti tidak tentu
Menggantikan
benda yang tidak tentu jumlahnya atau tidak dikenal.
·
Kata ganti tunjuk
Menunjuk
benda yang telah disebutkan sebelumnya (ini, itu).
c. Numeralia
(bilangan)
Kata-kata
yang menyatakan bilangan, jumlah, nomor, urutan, dan himpunan. Menurut bentuk
dan fungsinya terdapat kata billangan utama, bilangan genap, bilangan ganjil,
bilangan bulat, bilangan pecahan, bilangan tingkat, dan kata bantu bilangan.
(Chaer. 2015:93)
-
Kata bilangan utama atau kata bilangan
sejati adalah kata-kata seperti satu, dua, tiga, lima, tujuh, sebelas, dsb.
-
Kata bilangan genap adalah kata bilangan
yang habis dibagi dua, empat, enam, delapan, dsb.
-
Kata bilangan ganjil adalah bilangan
yang tidak habis dibagi dua, seperti satu, tiga, lima, dst.
-
Kata bilangan bulat, bisa terdiri dari
bilangan ganjil ataupun genap, kecuali bilangan pecahan dan desimal.
-
Kata bilangan tingkat, digunakan untuk
menyatakan urutan. Seperti ketiga, keempat, kelima, dst.
Contoh
: beliau duduk di kursi kelima dari kanan.
-
Kata bilangan himpunan adalah kata
bilangan yang menyatakan kelompok atau jumlah. Bentuknya sama dengan kata
bilangan tingkat.
Contoh
: ketiga orang itu dituduh dalam gerakan terorisme.
-
Kata bantu bilangan juga bisa disebut
kata penjodoh atau kata penggolong bilangan yang digunakan sebagai tanda
pengenal nomina tertentu dan ditempatkan diantara kata bilangan nominanya. Kata
bantu bilangan yang lazim digunakan adalah orang
(untuk manusia), ekor (untuk
binatang), dan buah (untuk umum).
Selain itu, secara spesifik digunakan juga kata-kata lembar, batang, helai,
butir, biji, pucuk, bilah, mata, tangkai, kuntum, tandan, carik, kaki, pasang,
dan rumpun.
Contoh
: dua orang Korea, lima ekor gajah, sahelai kain, dst.
Kata bantu bilangan diatas digunakan untuk
nomina terhitung; untuk nomina tak terhitung digunakan nama wadah pengukur
nomina itu.
Contoh
: secangkir kopi, dua botol kecap, sepotong roti, dua gram emas,
dsb.
d. Preposisi
(kata depan)
Kata-kata
yang digunakan untuk merangkaikan nomina dengan verba di dalam suatu klausa.
Secara semantic, preposisi menyaktan makna :
-
Tempat berada (di, pada, dala, atas,
antara)
-
Asal arah (dari)
-
Arah tujuan (ke, kepada, akan, terhadap)
-
Pelaku (oleh)
-
Alat (dengan dan berkat)
-
Perbandingan (daripada)
-
Hal atau masalah (tentang dan mengenai)
-
Akibat (hingga/sehingga, sampai)
-
Tujuan (untuk, buat, guna, bagi)
Catatan : ada beberapa
kata yang berlaku juga sebagai konjungsi, seperti untuk dan bagi.
Perbedaannya dalam preposisi membentuk frase preposisi dengan nomina yang
mengikutinya, dan dalam klausa atau kalimat menduduki fungsi keterangan.
Sedangkan dalam konjungsi, menggabungkan dua unsur sintaksis, baik kata, frasa,
kausa maupun kalimat.
e. Konjungsi
Konjungsi atau kata penghubung adalah kata-kata yang
menghubungkan satuan-satuan sintaksis, baik antara kata dengan kata, antara
frase dengan frase, antara klausa dengan klausa, atau antara kalimat dengan
kalimat.
Dilihat dari tingkat kedudukannya konjungsi
dibedakan menjadi dua, yaitu :
1. Konjungsi
koordinatif
Konjungsi yang menghubungkan
dua unsur kalimat atau lebih yang kedudukannya sederajat atau setara.
Konjungsi
koordinatif dilihat dari sifat hubungannya, yaitu :
-
Menghubungkan menjumlahkan (dan, serta)
-
Menghubungkan memilih (atau)
-
Memperhubungkan mempertentangkan
(tetapi, namun, sedangkan, dan sebaliknya)
-
Menghubungkan membetulkan (melainkan,
hanya)
-
Menghubungkan menegaskan (bahkan, malah,
lagipula, apalagi, jangankan)
-
Menghubungkan membatasi (kecuali, hanya)
-
Menghubungkan mengurutkan (kemudian,
lalu, selanjutnya, setelah itu)
-
Menghubungkan menyamakan (yaitu, yakni,
ialah, adalah, bahwa)
2. Konjungsi
subordinatif
Konjungsi yang
menghubungkan dua unsur kalimat (klausa) yang kedudukannya tidak sederajat.
Konjungsi
subordinatif dilihat dari sifat hubungannya, yaitu :
-
Menghubungkan menyatakan sebab akibat
(sebab, karena)
-
Menghubungkan menyatakan persyaratan
(jika, jikalau, bila, bilamana, apabila, asal)
-
Menghubungkan menyatakan tujuan (agar,
supaya)
-
Menghubungkan menyatakan waktu (ketika,
sewaktu, sebelum, sesudah, tatkala, sejak, sambil, selamat)
-
Menghubungkan menyatakan akibat (sampai,
hingga, sehingga)
Contoh : dia terlalu
banyak makan hingga tidak kuat berdiri
-
Menghubungkan menyatakan batas kejadian
(sampai, hingga)
Contoh : kami
menyelesaikan pekerjaan itu sampai pukul tiga dini hari.
-
Menghubungkan menyatakan tujuan atau
sasaran (untuk, guna)
-
Menghubungkan menyatakan penegasan
(meskipun, biarpun, kendatipin, sekalipun)
-
Menghubungkan menyatakan pengandaian
(seandainya, andaikata)
-
Menghubungkan menyatakan perbandingan
(seperti, bagai, laksana).
3.
Konjungsi
antar kalimat
Konjungsi yang
digunakan untuk menghubungkan kalimat yang satu dengan lainnya yang berada
dalam satu paragraf.
Konjungsi
antarkalimat dilihat dari sifat hubungannya, yaitu :
-
Menghubungkan dan mengumpulkan (jadi,
karena itu, oleh sebab itu, kalu begitu, dengan demikian)
-
Menghubungkan dan menyatakan penegasan
(lagipula, apalagi)
-
Menghubungkan mempertentangkan atau
mengontraskan (namun, sebaliknya)
f. Artikulus
(kata sandang)
Kata-kata yang berfungsi sebagai penentu atau
mendefinitkan suatu nomina, ajektifa, atau kelas lain. Artikulus dalam bahasa
Indonesia adalah “Si dan Sang”.
Contoh
: Si cerdik, Sang puteri.
g. Interjeksi
Kata-kata yang mengungkapkan perasaan batin.
Misalnya karena kaget, marah, terharu, kangen, kagum, sedih, dsb.
Contoh
: “Wah, indah sekali”, “Astaga, sudah siang begini kamu baru bangun”
h. Partikel
Pertikel digunakan sebagai penegas, tetapi ada pula
yang bukan. Macam-macam partikel adalah partikel -kah, -lah, -tah, pun dan per.
Contoh
:
-
Apakah isi lemari itu?
-
Ambillah mana yang kamu suka!
-
Saya pun tidak dapat tidur pulas
-
Gajimu naik per satu September.
DAFTAR PUSTAKA :
Chaer, Abdul. 2015. Morfologi Bahasa Indonesia: Pendekatan
Proses. Jakarta: Rineka Cipta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar