Kamis, 11 Januari 2018

Klasifikasi Kata (Kelas Terbuka dan Tertutup)



RESUME MORFOLOGI
Dosen Pengampu : Diana Mayasari, M.Pd.
Nama : Kholifatur Riski Amalia
NIM : 166008 / PBSI 16C
 
 
KLASIFIKASI KATA
Klasifikasi atau bisa disebut jenis kata adalah golongan kata yang mempunyai kesamaan bentuk, fungsi dan perilaku sintaksis. Dalam tata bahasa tradisional, jenis kata dibedakan menjadi 10 macam (Aristoteles).
Klasifikasi kata dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :
1.      Kelas terbuka
Kelas yang anggotanya dapat bertambah atau berkurang sewaktu-waktu berkenaan dengan perkembangan sosial budaya yang terjadi dalam masyarakat penutur suatu bahasa. (Chaer. 2015:65)
a.      Verba (Kata kerja)
Ciri-ciri :
1.      Sering diikuti afiks.
Contoh : mengantar, bertamu, diajak
2.      Dapat didampingi oleh semua adverbia kala (tenses) yaitu, sedang, akan, hendak, sudah, telah, belum.
3.      Dapat didampingi oleh negasi tidak dan tanpa.
4.      Dapat diperluas dengan kata “dengan+ajektifa”.
Contoh : berbicara dengan lancar, menghitung dengan teliti.
5.      Umumnya menduduki fungsi predikat.
Contoh : Ajeng (S) sedang belajar (P) =>{V}

Verba memiliki 10 jenis, yaitu :
1.      Transitif
Diikuti oleh objek, umunya kata kerja ini berprefiks {men-}
Contoh :
-          Alya (S) membantu (P) ibunya (O)
2.      Intransitif
Tidak diikuti oleh objek, umumnya berprefiks {ber-} ada juga yang berprefiks {meN-}
Contoh :
-          Siti (S) menangis (P)
-          Siti (S) bekerja (P)
3.      Aktif
Menyatakan perbuatan yang dilakukan oleh subjek. Umumnya berafiks {meN-}
S = pelaku, O = penderita.
Contoh : Fitri (S) membaca (P) buku (O)
4.      Pasif
Menyatakan perbuatan objek.
S = penderita, O = pelaku.
Contoh : Buku (S) dibaca (P) Fitri (O)
5.      Finit
Menyatakan perbuatan. Umumnya menduduki fungsi predikat.
Contoh : Ayah (S) memperbaiki (P) rumah (O)
6.      Infinit
Menyatakan perbuatan, namun bukan menduduki fungsi predikat.
Contoh :
-          Mengarang (S) sangat menyenangkan (P)
-          Olahraga (S) sangat menyehatkan (P)
7.      Reflektif
Menyatakan perbuatan yang mengenai pelakunya.
Contoh : Anton (S) sedang berseragam (P)
8.      Resiprok
Menyatakan perbuatan yang berlawanan atau saling berbalas-balasan
Contoh : Mereka (S) sedang berbincang-bincang (P)
9.      AUS
Kata kerja yang berpa kata dasar dan tidak berafiks.
Contoh : bangun, lari, mandi, kerja, pulang, pergi.
10.  Kopulatif
Kata kerja yang berjejeran pada suatu kalimat.
Contoh : Echa (S) pergi (V) bekerja (V)
b.      Nomina
Nama dari semua benda dan segala yang dibendakan, atau yang mengandung afiks
 -an, pe-, peN-an, ke-an.
Kata benda dibagi menjadi dua, yaitu :
·         Konkret (dapat dilihat, didengar, diraba, dirasa)
a.       Nama diri
Contoh : Ali, Jakarta
b.      Nama jenis
Contoh : gunung, lemari, sungai
c.       Nama zat
Contoh : kayu, logam, air, udara
d.      Nama himpunan
Contoh : manusia, masyarakat, hewan, hutan.
·         Abstrak (tidak dapat dilihat, didengar, diraba)
Contoh : keadilan, kekerasan, ilmu.

Ciri-ciri nomina :
1.      Diikuti afiks {-an}, {pe-}, (peN-an), {peN-}, {ke-an}.
Contoh : tulisan, pedagang.
2.      Dapat didahului kata depan (preposisi)
Contoh : di pasar, ke pasar, dari pasar, pada dinding.
3.      Dapat didahului dengan kata sandang (Si dan Sang)
Contoh : Si cerdik, Sang puteri.
4.      Dapat disertai negasi ‘bukan’
Contoh : Bukan rumah
5.      Dapat diikuti oleh kata ganti -ku, -mu, -nya.
Contoh : Bajuku, rumahmu, pensilnya.
6.      Dapat diperluas dengan kata ‘yang + ajektifa’
Contoh : Anak yang manja.
7.      Dapat diikuti dengan kata ‘ini dan itu’
Contoh : took ini, sawah itu.
8.      Dapat menduduki fungsi subjek, predikat, objek.
Contoh : Aminah (S) => Adj pergi (P) ke toko (Ket. tempat)

c.       Ajektifa (Kata keadaan atau kata sifat)
Kata sifat memiliki fungsi sebagai atribut, predikat dan substansif.
            Ciri-ciri :
1.      Dapat didahului kata amat, sangat, terlalu dan agak.
Contoh : sangat panas
2.      Dapat diikuti kata ‘sekali dan benar’
Contoh : banyak sekali
3.      Dapat diulang dan dibubuhi afiks se-nya.
Contoh : selebar-lebarnya.
4.      Memberikan sifat kepada benda.
Contoh : pot bunga itu sangat bagus.
Kata sifat memiliki 3 tingkatan, yaitu :
1.      Tingkat positif (tingkat biasa)
Contoh : Bintang anak yang cerdas.
2.      Tingkat komparatif (membandingkan)
Contoh : Siska lebih tinggi daripada Siski.
3.      Tingkat superlatif (tingkat paling)
Contoh : Shanum siswa tercerdas di kelas kita.
2.      Kelas tertutup
a.       Adverbia (Kata keterangan)
Dalam berbagai buku tata bahasa sekolah, adverbial lazim disebut kata keterangan atau kata keterangan tambahan. Fungsinya adalah menerangkan verba, ajektifa, dan jenis kata lainnya. Berbeda dengan ajektifa yang fungsinya menerangkan nomina (kata benda). (Chaer. 2015:83)
            Adverbia atau kata keterangan dapat dibagi menjadi tujuh, yakni :
1.      Keterangan tempat
2.      Keterangan waktu
3.      Keterangan aspek (menjelaskan berlangsungnya peristiwa secara objektif)
{sedang, akan, telah, belum, sering, jarang}
4.      Keterangan tujuan
{agar, supaya, guna, untuk, buat}
5.      Keterangan kuantitatif (tingkat keseringan suatu peristiwa)
{kira-kira, sering, cukup, hampir, sedikit}
6.      Sebab
{sebab, karena, oleh, oleh karena}
b.      Pronominal (Kata ganti)
Kata yang berfungsi menggantikan kata benda. Kata ganti menduduki fungsi subjek atau objek.
            Kata ganti terdapat lima jenis, yaitu :
1.      Kata ganti orang
·         Orang pertama => Tunggal (aku, saya) => jamak (kami, kita)
·         Orang kedua (kamu, kau, anda)
·         Orang ketiga (menunjuk orang yang dibicarakan)
2.      Kata ganti pemilik (empunya) terletak dibelakang kata benda.
·         Kata ganti pemilik untuk orang pertama
Tunggal (aku, saya)
Jamak (kami, kita)
·         Untuk orang kedua
Tunggal (mu)
Jamak (kalian)
·         Untuk orang ketiga
Tunggal (nya)
Jamak (mereka)
·         Kata ganti penanya (5W+1H)
·         Kata ganti tidak tentu
Menggantikan benda yang tidak tentu jumlahnya atau tidak dikenal.
·         Kata ganti tunjuk
Menunjuk benda yang telah disebutkan sebelumnya (ini, itu).
c.       Numeralia (bilangan)
                  Kata-kata yang menyatakan bilangan, jumlah, nomor, urutan, dan himpunan. Menurut bentuk dan fungsinya terdapat kata billangan utama, bilangan genap, bilangan ganjil, bilangan bulat, bilangan pecahan, bilangan tingkat, dan kata bantu bilangan. (Chaer. 2015:93)
-          Kata bilangan utama atau kata bilangan sejati adalah kata-kata seperti satu, dua, tiga, lima, tujuh, sebelas, dsb.
-          Kata bilangan genap adalah kata bilangan yang habis dibagi dua, empat, enam, delapan, dsb.
-          Kata bilangan ganjil adalah bilangan yang tidak habis dibagi dua, seperti satu, tiga, lima, dst.
-          Kata bilangan bulat, bisa terdiri dari bilangan ganjil ataupun genap, kecuali bilangan pecahan dan desimal.
-          Kata bilangan tingkat, digunakan untuk menyatakan urutan. Seperti ketiga, keempat, kelima, dst.
Contoh : beliau duduk di kursi kelima dari kanan.
-          Kata bilangan himpunan adalah kata bilangan yang menyatakan kelompok atau jumlah. Bentuknya sama dengan kata bilangan tingkat.
Contoh : ketiga orang itu dituduh dalam gerakan terorisme.
-          Kata bantu bilangan juga bisa disebut kata penjodoh atau kata penggolong bilangan yang digunakan sebagai tanda pengenal nomina tertentu dan ditempatkan diantara kata bilangan nominanya. Kata bantu bilangan yang lazim digunakan adalah orang (untuk manusia), ekor (untuk binatang), dan buah (untuk umum). Selain itu, secara spesifik digunakan juga kata-kata lembar, batang, helai, butir, biji, pucuk, bilah, mata, tangkai, kuntum, tandan, carik, kaki, pasang, dan rumpun.
Contoh : dua orang Korea, lima ekor gajah, sahelai kain, dst.
      Kata bantu bilangan diatas digunakan untuk nomina terhitung; untuk nomina tak terhitung digunakan nama wadah pengukur nomina itu.
Contoh : secangkir kopi, dua botol kecap, sepotong roti, dua gram emas, dsb.
d.      Preposisi (kata depan)
           Kata-kata yang digunakan untuk merangkaikan nomina dengan verba di dalam suatu klausa. Secara semantic, preposisi menyaktan makna :
-          Tempat berada (di, pada, dala, atas, antara)
-          Asal arah (dari)
-          Arah tujuan (ke, kepada, akan, terhadap)
-          Pelaku (oleh)
-          Alat (dengan dan berkat)
-          Perbandingan (daripada)
-          Hal atau masalah (tentang dan mengenai)
-          Akibat (hingga/sehingga, sampai)
-          Tujuan (untuk, buat, guna, bagi)
Catatan : ada beberapa kata yang berlaku juga sebagai konjungsi, seperti untuk dan bagi. Perbedaannya dalam preposisi membentuk frase preposisi dengan nomina yang mengikutinya, dan dalam klausa atau kalimat menduduki fungsi keterangan. Sedangkan dalam konjungsi, menggabungkan dua unsur sintaksis, baik kata, frasa, kausa maupun kalimat.
e.       Konjungsi
Konjungsi atau kata penghubung adalah kata-kata yang menghubungkan satuan-satuan sintaksis, baik antara kata dengan kata, antara frase dengan frase, antara klausa dengan klausa, atau antara kalimat dengan kalimat.
Dilihat dari tingkat kedudukannya konjungsi dibedakan menjadi dua, yaitu :
1.      Konjungsi koordinatif
Konjungsi yang menghubungkan dua unsur kalimat atau lebih yang kedudukannya sederajat atau setara.
Konjungsi koordinatif dilihat dari sifat hubungannya, yaitu :
-          Menghubungkan menjumlahkan (dan, serta)
-          Menghubungkan memilih (atau)
-          Memperhubungkan mempertentangkan (tetapi, namun, sedangkan, dan sebaliknya)
-          Menghubungkan membetulkan (melainkan, hanya)
-          Menghubungkan menegaskan (bahkan, malah, lagipula, apalagi, jangankan)
-          Menghubungkan membatasi (kecuali, hanya)
-          Menghubungkan mengurutkan (kemudian, lalu, selanjutnya, setelah itu)
-          Menghubungkan menyamakan (yaitu, yakni, ialah, adalah, bahwa)
2.      Konjungsi subordinatif
Konjungsi yang menghubungkan dua unsur kalimat (klausa) yang kedudukannya tidak sederajat.
Konjungsi subordinatif dilihat dari sifat hubungannya, yaitu :
-          Menghubungkan menyatakan sebab akibat (sebab, karena)
-          Menghubungkan menyatakan persyaratan (jika, jikalau, bila, bilamana, apabila, asal)
-          Menghubungkan menyatakan tujuan (agar, supaya)
-          Menghubungkan menyatakan waktu (ketika, sewaktu, sebelum, sesudah, tatkala, sejak, sambil, selamat)
-          Menghubungkan menyatakan akibat (sampai, hingga, sehingga)
Contoh : dia terlalu banyak makan hingga  tidak kuat berdiri
-          Menghubungkan menyatakan batas kejadian (sampai, hingga)
Contoh : kami menyelesaikan pekerjaan itu sampai pukul tiga dini hari.
-          Menghubungkan menyatakan tujuan atau sasaran (untuk, guna)
-          Menghubungkan menyatakan penegasan (meskipun, biarpun, kendatipin, sekalipun)
-          Menghubungkan menyatakan pengandaian (seandainya, andaikata)
-          Menghubungkan menyatakan perbandingan (seperti, bagai, laksana).
3.      Konjungsi antar kalimat
Konjungsi yang digunakan untuk menghubungkan kalimat yang satu dengan lainnya yang berada dalam satu paragraf.
Konjungsi antarkalimat dilihat dari sifat hubungannya, yaitu :
-          Menghubungkan dan mengumpulkan (jadi, karena itu, oleh sebab itu, kalu begitu, dengan demikian)
-          Menghubungkan dan menyatakan penegasan (lagipula, apalagi)
-          Menghubungkan mempertentangkan atau mengontraskan (namun, sebaliknya)
f.       Artikulus (kata sandang)
Kata-kata yang berfungsi sebagai penentu atau mendefinitkan suatu nomina, ajektifa, atau kelas lain. Artikulus dalam bahasa Indonesia adalah “Si dan Sang”.
Contoh : Si cerdik, Sang puteri.
g.      Interjeksi
Kata-kata yang mengungkapkan perasaan batin. Misalnya karena kaget, marah, terharu, kangen, kagum, sedih, dsb.
Contoh : “Wah, indah sekali”, “Astaga, sudah siang begini kamu baru bangun”
h.      Partikel
Pertikel digunakan sebagai penegas, tetapi ada pula yang bukan. Macam-macam partikel adalah partikel -kah, -lah, -tah, pun dan per.
Contoh :
-          Apakah isi lemari itu?
-          Ambillah mana yang kamu suka!
-          Saya pun tidak dapat tidur pulas
-          Gajimu naik per satu September.



DAFTAR PUSTAKA :
Chaer, Abdul. 2015. Morfologi Bahasa Indonesia: Pendekatan Proses. Jakarta: Rineka Cipta




Tidak ada komentar:

Posting Komentar