RESUME MORFOLOGI
Dosen Pengampu : Diana Mayasari, M.Pd.
Nama : Kholifatur Riski Amalia
NIM : 166008 / PBSI 16C
KONSEP DASAR MORFOLOGIS
A.
Pengertian
Proses Morfologis
Proses morfologis adalah suatu peristiwa dimana
terdapat perubahan satu morfem menjadi beberapa morfem sehingga menimbulkan
makna yang berbeda. Dalam proses morfologis ini, morfem yang telah mengalami
proses morfologis mengalami perubahan sifat dari leksikal menjadi gramatikal.
Contoh :
-
Menulis (berasal dari morfem {meN-} dan
{tulis})
-
Pembangungan (berasal dari morfem
{peN-an} dan {bangun})
-
Gelap-gulita (berasal dari morfem
{gelap} dan {gulita})
-
Murid-murid (berasal dari morfem {murid}
dan morfem ulang)
Morfem
memiliki dua fungsi :
·
Morfem sebagai tempat penggabungan
(bentuk dasar)
Contoh
: tulis, bangun, gelap, murid
·
Berfungsi sebagai penggabung
Contoh
: morfem {meN-}, {peN-an}, {gulita}, {ulang}
B.
Ciri-ciri
suatu kata yang mengalami proses morfologis
1. Bentuk
dasar tidak selalu berupa morfem tunggal.
Contoh
:
-
Bentuk dasar “Bersusah payah” adalah
“susah payah” (dua morfem)
-
Bentuk dasar “Ketidakadilan” adalah
“tidak adil” (dua morfem)
2. Dilihat
dari wujudnya, bentuk dasar dapat berupa pokok kata bahkan kelompok kata.
Contoh
: (pokok kata)
-
Menemukan, berasal dari bentuk dasar
‘temu’
-
Berjuang, berasal dari bentuk dasar
‘juang’
-
Perhunungan, berasal dari bentuk dasar
‘hubung’
Contoh
: (kelompok kata)
-
Mengesampingkan, berasal dari bentuk
dasar ‘ke samping’
-
Ketidakmampuan, berasal dari bentuk
dasar ‘tidak mampu’
-
Dikemukakan, berasal dari bentuk dasar
‘ke muka’
3. Penggabungan
atau perpaduan antara morfem-morfem itu mengalami perubahan arti.
Contoh
:
-
BD (Bentuk dasar) ‘cangkul’ digabungi morfem {meN-} menjadi ‘mencangkul’.
‘Cangkul’
adalah alat yang digunakan untuk melakukan kegiatan mencangkul, sedangkan
‘mencangkul’ adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan alat ‘cangkul’
-
BD ‘juang’ + morfem {ber-} = Berjuang
**Sedangkan**
-
Sepeda – sepedah
-
Semakin – semingkin
-
Siku – sikut
Adalah
bukan proses morfologi karena tidak
mengalami perubahan makna atau arti.
4. Bersistem
atau beraturan
Contoh
:
-
ber – regu => beregu
-
ber – renang => berenang
**Sedangkan**
-
Mahasiswa-mahasiswi
-
Putera-puteri
-
Dewa-dewi
Bukan
termasuk sistem perubahan dari bahasa Indonesia, akan tetapi memang telah ada
pada bahasa sangsekerta yang telah diserap ke dalam bahasa Indonesia.
C.
MACAM-MACAM
PROSES MORFOLOGIS
Dalam
bahasa Indonesia peristiwa pembentukan kata ada tiga macam :
a. Afiksasi
(imbuhan)
Yaitu
pembentukan kata dengan menambahkan morfem afiks pada bentuk dasar (BD).
Contoh :
- BD ‘tulis’ + morfem
{me-} = menulis
b. Redublikasi
(kata ulang)
Contoh :
Makan-makan,
sayur-sayur (pengulangan penuh)
Gerak-gerik,
sayur-mayur, lauk-pauk (pengulangan perubahan bunyi)
Catatan : Redublikasi
memiliki beberapa jenis, untuk jenis-jenis lainnya akan dibahas pada bab
“Redublikasi” yaa.. J
c. Komposisi
atau kata majemuk
Yaitu menggabungkan dua
atau lebih bentuk dasar.
Contoh :
mata kaki (komposisi)
meja hijau (kata
majemuk)
D.
PEMBENTUKAN
KATA DI LUAR PROSES MORFOLOGIS
Proses morfologis mencatat hal-hal deskriptif dalam
pembentukan kata-kata baru. Di luar itu, masih ada pembentukan kata-kata baru dengan
proses lain, yaitu :
1. Akronim
Pembentukan akronim tidak mempunyai sistem yang
jelas, apakah diambil dari suku awal, tengah atau akhir.tidak dapat dipastikan.
Pembentukannya lebih bersifat suka-suka.
Contoh
: Pusdiklat (Pusat Pendidikan dan Pelatihan)
Remaja
adalah “biang” lahirnya akronim.
Contoh
:
-
Macan (manis dan cantik)
-
Lapendos (laki-laki penuh dosa)
-
Sendu (seneng duit)
Bahkan
slogan KB “dua anak cukup”, diakronimkan menjadi “DANCUK”.
2. Abreviasi
Adalah apa yang sehari-hari disebut ‘singkatan’ (Sudaryanto,
1983:230) yang diambil dari huruf terdepan.
Contoh
: TNI, PGRI dan lain-lain
Pengucapannya
ada yang dibaca sebagai huruf abjad, ada juga yang tidak.
Missal
: P3K
3. Abreviakronim
(gabungan antara abreviasi dan akronim)
Contoh
: Polri, Pemilu, AMD
4. Kontraksi
(Pengerutan)
Contoh
: Begitu (bagai itu), begini (bagai ini)
5. Kliping
Penggambilan suku khusus dalam kata yang untuk
selanjutnya dianggap sebagai kata baru (Samsuri, 1998:130).
Contoh :
-
Influensa => Flu
-
Purnawirawan => Pur
-
Professional => Prof
6. Afiksasi
pingutan
Contoh
:
-
{anti-} komunis, {anti-} kekerasan
-
{non-} formal, {non-} Pemerintah
-
{antar-} siswa, {a-} siswa
-
{swa-} sembada, {swa-} daya, {swa-}
layan.
Jika sudah tidak terasa keasingannya, maka ia sudah
dianggap sebagai keluarga besar adiks bahasa Indonesia. Misalnya : -wan, -wati, -isme, -isasi yang sangat
produktif, sehingga tidak terasa lagi bahwa afiks-afiks tersebut merupakan
hasil pungutan dari bahasa asing.
DAFTAR PUSTAKA :
Muslich,
Masnur. 2010. Tatabentuk Bahasa Indonesia
: Kajian ke Arah Tata Bahasa Deskriptif. Jakarta. Bumi Aksara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar