.
"MASYAALLAH"
.
Aku adalah gadis dengan sejuata kekurangan, aku fakir, aku miskin.
Namun, dengan mudahnya Engkau membuatku memiliki segalanya.
.
Seketika Engkau ajarkan aku cara bersyukur.
Kau tunjukkan seluruh yang Kau punya, untuk kupinjam semauku.
.
Kau tunjukkan seluruh yang kau jaga, untuk Kau titipkan padaku.
.
Kau tunjukkan cinta, atas segala hal yang hidup dan yang mati.
.
Yang nampak dan yang tak nampak. .
Yang terasa, sekaligus yang tak mudah putus asa.
.
Kau lengkapi segalanya.
Kau penuhi seluruh yang aku butuhkan.
.
Hanya untuk mengajarkanku cara bersyukur.
.
Kau ambil segalanya untuk mengajarkanku cara bersyukur dan bersabar.
.
Kau kembalikan lagi seluruhnya, untuk menunjukkanku cinta.
Cintamu, untuk seluruh hamba-Mu.
.
Tiada puisi yang lebih indah melainkan puisi tentang-Mu.
MasyaAllah, Alhamdulillah, MasyaAllah.
Gendisjawa
Selasa, 21 Agustus 2018
Kamis, 18 Januari 2018
Problema Morfologis
RESUME MORFOLOGI
PROBLEMA MORFOLOGIS DALAM BAHASA
INDONESIA
Dosen Pengampu : Diana Mayasari, M.Pd.
Nama : Kholifatur Riski Amalia
NIM : 166008 / PBSI 16C
A. Problema
Akibat Bentukan Baru
Akhir-akhir ini banyak sekali bentukan baru sebagai
hasil kreasi pemakai bahasa Indonesia.
Misalnya: memberhentikan, memberlakuakan.
B. Problema
Akibat Kontaminasi
Kontaminasi merupakan gejala bahasa
yang mengacaukan kontruksi kebahasaan.
Contoh: dipelajarkan
C. Problema
Akibat Unsur Serapan
Hal itu terihat pada kekacauan dan keragu-raguan
pemakaian bentuk data-data, datum-datum, data, datum; fakta-fakta,
faktum-faktum, fakta, faktum; alumni dan alumnus. Semua kata tersebut adalah
bahasa latin yang masing-masing adalah kata tunggal dan kata jamak, sedangkan
yang terserap dalam bahasa Indonesia hanyalah bentuk kata jamaknya, yaitu:
data, fakta, dan alumni. Sedang bentuk tunggalnya: datum, fatktum, dan alumnus
tidak terserap dalam bahasa Indonesia.
Permasalahannya: apa bentuk
tunggalnya jika yang diserap hanya bentuk jamaknya?
D. Problema
Akibat Analogi
Sebagai istilah bahasa, analogi adalah bentukan
bahasa dengan menurut conoh yang sudah ada. Dengan adanya gejala analogi ini,
adalah banyaknya pemakai bahasa (Indonesia) yang salah analogi. Hal itu
disebabkan ketidak pahaman mereka terhadap bentuk-bentuk yang dicontohkannya
dan yang dibuatnya.
Misal:
Kata ‘Pihak’ menjadi
‘Fihak’
Kata ‘Paham’ menjadi
‘Faham’
E. Problema
Akibat Perlakuan Kluster
Kluster atau konsonan
rangkap mengandung problema tersendiri dalam pembentukan kata bahasa Indonesia.
Hal ini disebabkan bahwa kata bahasa Indonesia asli tidak mengenal kluster.
Kata yang berkluster itu berasal dari unsur serapan,
Contoh: program,
traktir, transfer
F. Problema
Akibat Proses Morfologis Unsur Serapan
Masalah ini ada
kesamaan dengan masalah sebelumnya, yaitu berkenaan dengan perlakuan unsur
asing. Hanya saja, yang menjadi tekanan disini adalah proses morfologisnya.
G. Problema
Akibat Perlakuan Kta Majemuk
Problema itu terlihat
pada persaingan pemakaian bentuk pertanggungjawaban,
pertanggungan jawab, menyebarluaskan, menyebarkan luas. Dari contoh itu
terlihat dua perlakuan bentuk majemuk. Sehingga muncul sebuah pertanyaan,
manakah yang tepat dan benar?
Masih banyak problema
yang akan terus muncul dalam pembentukan kata bahasa Indonesia. Fenomena ini
sebagai tanda bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang hidup dan masih
menjalankan fungsinya secara aktif alat komunikasi bagi pemakainya.
DAFTAR PUSTAKA:
Muslich, Masnur. 2010. Tatabentuk Bahasa Indonesia: Kajian ke Arah
Tatabahasa Deskriptif. Jakarta: Bumi Aksarsa.
Perubahan Bentuk Kata
RESUME MORFOLOGI
PERUBAHAN
BENTUK KATA
Dosen Pengampu : Diana Mayasari, M.Pd.
Nama : Kholifatur Riski Amalia
NIM : 166008 / PBSI 16C
A. Analogi
Analogi adalah suatu
bentukan bahasa dengan meniru contoh yang sudah ada.
B. Adaptasi
Adaptasi atau
penyesuaian dapat dibedakan menjadi dua:
1. Adaptasi
fonologis
Penyesuaian perubahan
bunyi bahasa asing menjadi bunyi yang sesuai dengan ucapan lidah bangsa pemakai
bahasa yang dimasukinya. Adaptasi ini menekankan pada lafal bunyi.
Contoh:
Faduli (Arab) =>
Peduli (bahasa yang dimasukinya)
2. Adaptasi
Morfologis
Penyesuaian struktur
bentuk kata. Hal ini berpengaruh pada bunyi.
Contoh:
Parameswari
(Sansekerta) => Permaisuri (bahasa yang dimasukinya)
C. Kontaminasi
Dalam bahasa Indonesia, kata kontaminasi sama dengan kerancuan.
Kata rancu dipakai sebagai istilah yang berkaitan dengan pencampuradukan dua
unsur bahasa (afiks, kata, frase / kaliamat) yang tidak wajar.
Contoh: dinasionalisirkan,
dipublisirkan.
D. Hiperkorek
Gejala
hiperkorek merupakan proses pembetulan bentuk yang sudah betul malah menjadi
salah.
Contoh:
a.
Fonem /s/ menjadi /sy/;
Insaf
=> insyaf
Safaf
=> syaraf
b.
Fonem /p/ menjadi /f/
Pasal
=> fasal
Paham
=> paham
E. Varian
Gejala
varian sering dijumpai dalam ucapan pejabat pada Era Orde Baru. Vokal /a/ pada
sufiks –kan menjadi /e/. Misalnya:
Direncanakan => direncanaken
Diambilkan => diambilken
F. Asimilasi
Proses
penyamaan atau penghampirsamaan bunyi yang tidak sama.
Contoh:
Inmoral > immoral > immoral
G. Disimilasi
Proses
berubahnya dua buah fonem yang sama menjadi tidak sama.
Contoh:
Citta (Sangsekerta) => Cipta
H. Adisi
Perubahan
yang terjadi dalam suatu tuturan yang ditandai oleh penambahan fonem.
I. Reduksi
Peristiwa
pengurangan fonem dalam suatu kata.
J. Metatesis
Suatu
pertukaran, adalah perubahan bentuk kata yang fonem-fonemnya bertukar tempat.
Contoh:
Almari => Lemari
K. Diftongisasi
Perubahan
suatu monoftong menjadi diftong.
L. Monoftongisasi
Proses
perubahan suatu diftong (gugus vokal) menjadi monoftong.
M. Anaptiksis
Proses
penambahan suatu bunyi dalam suatu kata guna melancarkan ucapannya.
Contoh: putra => putera
N. Haplologi
Proses
penghilangan suku kata yang ada ditengah-tengah kata.
Contoh: sarnanantara => sementara
O. Kontraksi
Gejala
yang memperlihatkan adanya satu atau lebih fonem yang dihilangkan.
Kadang-kadang ada perubahan atau penggantian fonem.
Contoh: tidak ada => tiada.
DAFTAR
PUSTAKA:
Muslich, Masnur. 2010. Tatabentuk Bahasa Indonesia: Kajian ke Arah
Tatabahasa Deskriptif. Jakarta: Rineka Cipta
Fungsi Morfem
RESUME MORFOLOGI
FUNGSI MORFEM IMBUHAN, ULANG DAN
KONSTRUKSI MAJEMUK
Dosen Pengampu : Diana Mayasari, M.Pd.
Nama : Kholifatur Riski Amalia
NIM : 166008 / PBSI 16C
FUNGSI MORFEM IMBUHAN
1. Morfem
Imbuhan Sebagai Pembentuk Kata Benda
Yaitu, {peN-}, {per-}, {pe-}, {-an}, {-wan},
{ke-an}, {peN-an}, {per-an}, dan {-el-}.
Morfem Imbuhan + Bentuk dasar dan kelas katanya = Hasil
pembentukan dan kelas katanya.
peN-
+ tulis (kerja) = penulis (benda)
ke-an
+ bersih (sifat) = kebersihan (benda)
2. Morfem
Imbuhan Sebagai Pembentuk Kata Kerja
Yaitu, {meN-}, {ber-}, {di-}, {meN-kan}, {meN-i},
{di-kan}, {di-i}, {ter-kan}, dan {ke-an}.
Rumus:
Morfem
Imbuhan + BD = kerja
3. Morfem
Imbuhan Sebagai Pembentuk Kata Sifat
Yaitu, {meN-}, {ber-}, {ter-},
{peN-}, {ke-an}, dan {-em-}
Rumus:
Morfem
Imbuhan + BD = Sifat
FUNGSI
MORFEM ULANG
1.
Morfem Ulang sebagai pembentuk Kata
Benda
Bentuk Dasar
|
Kelas Kata
|
Bentuk Ulang
|
Kelas Kata
|
Menjahit
|
Kerja
|
Jahit-menjahit
|
Benda
|
Menulis
|
Kerja
|
Tulis-menulis
|
Benda
|
2. Morfem
Ulang sebagai pembentuk Kata Tugas/Sarana
Bentuk Dasar
|
Kelas Kata
|
Bentuk Ulang
|
Kelas Kata
|
||
Cepat
|
Sifat
|
Cepat-cepat
(dengan cepat)
|
Tugas
|
||
Jauh
|
Sifat
|
Jauh-jauh
(sampai jauh)
|
Tugas
|
||
KONSTRUKSI MAJEMUK
Kata tanah adalah kata benda, dan air
adalah kata benda. Bentuk majemuknya adalah tanah air (kata benda).
Sepak (kerja) terjang (kerja). Bentuk majemuknya
adalah sepak terjang (kata benda).
Kambing (benda) hitam (sifat). Bentuk majemuknya
adalah kambing hitam (benda).
Kesimpulan:
Morfem kontruksi mejemuk bisa berubah-ubah kelas katanya. Perubahan itu
diakibatkan oleh penggabungan unsur-unsurnya.
DAFTAR PUSTAKA:
Muslich,
Masnur. 2010. Tatabentuk Bahasa
Indonesia:Kajian Ke Arah Deskriptif. Jakarta: Bumi Aksara
Langganan:
Postingan (Atom)
