Selasa, 21 Maret 2017

Merindu Takaran



Pagi yang masih cukup petang, namun warga desa Takaran sudah berbondong-bondong menuju Masjid Ar-Rahman untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah. Tak heran, desa Takaran memang bumi yang damai dan religius. Di desa ini banyak didirikan pesantren-pesantren ataupun tempat-tempat mengaji lainnya. Di tambah dengan hiasan sawah-sawah, kebun dan sungai yang mengalir jernih yang semakin menciptakan suasana asri pada bumi Takaran. Para penduduknya pun sopan dan ramah, saling tegur sapa dan mengumbar senyum. Sungguh Takaran adalah desa yang meneduhkan kalbu. Desa ini begitu damai meskipun kebanyakan penduduknya adalah rakyat dari kalangan menengah ke bawah dan rata-rata berprofesi sebagai seorang buruh tani, tukang andong ataupun bakul[1] di pasar. Iya, itu adalah bumi dimana aku di lahirkan pada puluhan tahun yang lalu.
Kini bumi Takaran tak lagi religus, ramah, bahkan asri sekalipun. Tidak, sama sekali tidak. Semua telah berubah semenjak bapak meninggalkan kami semua, pun dengan jabatannya sebagai kepala desa paada masa itu. Bapak telah meninggal secara tragis akibat kecelakaan maut dengan darah yang tak henti mengalir dari hidung, telinga dan bagian belakang kepalanya.
Sejak saat itulah pergantian kepala desa tanpa pemilihan dari wagapun di laksanakan, dengan sedikit salam tempel hangat pada setiap penduduk yang kebanyakan memang terbatas ekonomi maka di iyakan sudah siapa saja yang hendak memimpin desa kami.
Pak Guyup Raden Rahmat. Orang terkaya di desa kami, beliau memiliki berhektar-hektar sawah, kebun, pabrik pengolahan hasil panen dan juga beberapa perusahaan yang tersebar di kota-kota besar. Beliau memang termasuk orang yang berpendidikan tinggi pada masa itu. Gelar Sarjana Ekonominya itu sangat berperan pada berbagai bidang. Semenjak beliau menjadi kepala desa, desa kami tak karuan. Ada saja acara iuran ini lah, bayar itu lah, yang katanya untuk memperbaiki ini lah, untuk membeli keperluan itu lah. Tapi nyatanya semua tetap sama buruknya bahkan lebih buruk. Bahkan beliau justru belibatkan kami para penduduk desa Takaran dalam urusan bisnisnya dengan perusahaan-perusahaan besar dari luar kota.
Perlahan kami di gusur dari bumi kami sendiri. Sawah-sawah dan kebun-kebun perlahan menjelma menjadi gedung-gedung pencakar langit, gedung rapat paripurnal dan sejenisnya. Sungai-sungaipun telah di sulap menjadi jalan untuk mesin beroda. Dan yang lebih menyayat hati, pesantren. Sebuah majelis yang di gunakan untuk belajar mengaji dan mengukuhkan ilmu keagamaan yang sudah mendarah daging pada kalbu kami kini sudah tak kami jumpai satupun sisa. Para orang tak berakhlaq itu telah merubuhkannya kemudian di bangunlah tempat berniaga mewah yang di lumuri banyak kaca-kaca mengkilat perusak ozon. Kini warga bumi Takaran tak lagi bisa sholat berjamaah di Masjid Ar-Rahman, mengaji di pesantren, bercocok tanam ataupun memancing ikan bersama-sama di sungai Takaran.
Warga desa Takaran sudah lama bermutasi pada daerah yang lain, yang jelas kenangannya tidak akan seindah kenangan yang ada pada bumi Takaran yang sudah mereka tinggali berpuluh-puluh tahun lamanya. Kini tinggal tersisa aku dan Maymunah adikku, pribumi desa Takaran yang masih tetap tinggal di sini di desa Takaran yang penuh asap dan gedung-gedung pencakar langit. Dan sekarang aku menjadi seorang guru di salah satu sekolah elit di Takaran. Aku ingin tetap berada di desaku yang penuh dengan kisah perjuangan. Aku telah menyaksikan semua sejarah bumi Takaran yang akan terus aku ingat dan aku ceritakan pada anak, cucu dan murid-muridku. Betapa Takaran adalah desa yang tidak akan selesai untuk di takar pada kerinduan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar