Pagi yang masih cukup petang, namun warga desa Takaran sudah
berbondong-bondong menuju Masjid Ar-Rahman untuk melaksanakan sholat subuh
berjamaah. Tak heran, desa Takaran memang bumi yang damai dan religius. Di desa
ini banyak didirikan pesantren-pesantren ataupun tempat-tempat mengaji lainnya.
Di tambah dengan hiasan sawah-sawah, kebun dan sungai yang mengalir jernih yang
semakin menciptakan suasana asri pada bumi Takaran. Para penduduknya pun sopan
dan ramah, saling tegur sapa dan mengumbar senyum. Sungguh Takaran adalah desa
yang meneduhkan kalbu. Desa ini begitu damai meskipun kebanyakan penduduknya
adalah rakyat dari kalangan menengah ke bawah dan rata-rata berprofesi sebagai
seorang buruh tani, tukang andong ataupun bakul[1] di pasar. Iya,
itu adalah bumi dimana aku di lahirkan pada puluhan tahun yang lalu.
Kini bumi Takaran tak lagi religus, ramah, bahkan asri sekalipun.
Tidak, sama sekali tidak. Semua telah berubah semenjak bapak meninggalkan kami
semua, pun dengan jabatannya sebagai kepala desa paada masa itu. Bapak telah
meninggal secara tragis akibat kecelakaan maut dengan darah yang tak henti
mengalir dari hidung, telinga dan bagian belakang kepalanya.
Sejak saat itulah pergantian kepala desa tanpa pemilihan dari
wagapun di laksanakan, dengan sedikit salam tempel hangat pada setiap penduduk
yang kebanyakan memang terbatas ekonomi maka di iyakan sudah siapa saja yang
hendak memimpin desa kami.
Pak Guyup Raden Rahmat. Orang terkaya di desa kami, beliau
memiliki berhektar-hektar sawah, kebun, pabrik pengolahan hasil panen dan juga
beberapa perusahaan yang tersebar di kota-kota besar. Beliau memang termasuk
orang yang berpendidikan tinggi pada masa itu. Gelar Sarjana Ekonominya itu
sangat berperan pada berbagai bidang. Semenjak beliau menjadi kepala desa, desa
kami tak karuan. Ada saja acara iuran ini lah, bayar itu lah, yang katanya
untuk memperbaiki ini lah, untuk membeli keperluan itu lah. Tapi nyatanya semua
tetap sama buruknya bahkan lebih buruk. Bahkan beliau justru belibatkan kami
para penduduk desa Takaran dalam urusan bisnisnya dengan perusahaan-perusahaan
besar dari luar kota.
Perlahan kami di gusur dari bumi kami sendiri. Sawah-sawah dan
kebun-kebun perlahan menjelma menjadi gedung-gedung pencakar langit, gedung
rapat paripurnal dan sejenisnya. Sungai-sungaipun telah di sulap menjadi jalan
untuk mesin beroda. Dan yang lebih menyayat hati, pesantren. Sebuah majelis
yang di gunakan untuk belajar mengaji dan mengukuhkan ilmu keagamaan yang sudah
mendarah daging pada kalbu kami kini sudah tak kami jumpai satupun sisa. Para
orang tak berakhlaq itu telah merubuhkannya kemudian di bangunlah tempat
berniaga mewah yang di lumuri banyak kaca-kaca mengkilat perusak ozon. Kini
warga bumi Takaran tak lagi bisa sholat berjamaah di Masjid Ar-Rahman, mengaji
di pesantren, bercocok tanam ataupun memancing ikan bersama-sama di sungai
Takaran.
Warga desa Takaran sudah lama bermutasi pada daerah yang lain,
yang jelas kenangannya tidak akan seindah kenangan yang ada pada bumi Takaran
yang sudah mereka tinggali berpuluh-puluh tahun lamanya. Kini tinggal tersisa
aku dan Maymunah adikku, pribumi desa Takaran yang masih tetap tinggal di sini
di desa Takaran yang penuh asap dan gedung-gedung pencakar langit. Dan sekarang
aku menjadi seorang guru di salah satu sekolah elit di Takaran. Aku ingin tetap
berada di desaku yang penuh dengan kisah perjuangan. Aku telah menyaksikan
semua sejarah bumi Takaran yang akan terus aku ingat dan aku ceritakan pada
anak, cucu dan murid-muridku. Betapa Takaran adalah desa yang tidak akan
selesai untuk di takar pada kerinduan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar