Kamis, 11 Januari 2018

Identifikasi Morfem


RESUME MORFOLOGI
Dosen Pengampu : Diana Mayasari, M.Pd.
Nama : Kholifatur Riski Amalia
NIM : 166008 / PBSI 16C
 
 IDENTIFIKASI MORFEM
Morfem adalah satuan gramatikal terkecil yang memiliki makna. Dengan kata lain ‘satuan’ tersebut tidak dapat dianalisis menjadi lebih kecil lagi tanpa merusak maknanya.
Contoh : bentuk “Membeli” (dapat dianalisis menjadi dua bentuk terkecil) yaitu;
Bentuk terkecil
Morfem / Bukan morfem
Jenis morfem
Keterangan
{Me-}
v

Morfem afiks
Secara gramatikal memiliki makna
{-beli}
v

Morfem dasar
Secara gramatikal memiliki makna
Sedangkan bentuk “beli” tidak dapat dianalisis menjadi lebih kecil lagi, karena ia sudah menjadi satu morfem.
{be-}

v

Tidak memiliki makna
{-li}

v

Tidak memiliki makna

A.    Identifikasi morfem
Satuan bahasa merupakan komposit antara bentuk dan makna. Oleh karena itu, untuk menetapkan sebuah bentuk antara morfem atau bukan morfem, didasarkan pada kriteria bentuk dan makna itu. Hal-hal berikut dapat dijadikan pedoman untuk menentukan morfem dan bukan morfem.
a.       Dua bentuk yang sama atau lebih memiliki makna yang sama merupakan sebuah morfem.
-          Bulan depan dia akan menikah
-          Sudah tiga bulan dia belum bayar uang spp
b.      Dua bentuk yang sama atau lebih bila memiliki makna yang berbeda, merupakan dua morfem yang berbeda.
-          Bank Indonesia memberi bunga 5% pertahun
-          Dia datang membawa seikat bunga
c.       Dua buah bentuk yang berbeda, tetapi memiliki makna yang sama, merupakan dua morfem yang berbeda. Umpamanya pada kata ayah dan bapak
-          Ayah pergi ke Medan
-          Bapak baru pulang dari Medan
d.      Bentuk-bentuk yang mirip tetapi maknanya yang sama adalah morfem yang sama, asal perbedaan bentuk tersebut dapat dijelaskan secara fonologis. Umpamanya, bentuk-bentuk me-, mem-, men-, meny-, meng-, dan menge- pada kata-kata berikut adalah sebuah morfem yang sama.
-          melihat
-          membina
-          mendengar
-          menyusul
-          mengambil
-          mengecat
e.       Bentuk yang hanya muncul dengan pasangan satu-satunya adalah juga sebuah morfem. Umpamanya bentuk renta pada konstruksi “tua renta”, dan bentuk kuyup pada konstruksi “basah kuyup” adalah morfem.
Contoh lain, bentuk bugar pada segar bugar dan bentuk mersik pada kering mersik
f.       Bentuk yang muncul berulang – ulang pada satuan yang lebih besar apabila memiliki makna yang sama adalah juga merupakan morfem yang sama. Misalnya bentuk “baca” pada kata – kata berikut :
-          membaca
-          pembaca
-          pembacaan
-          bacaan
-          terbaca
-          keterbacaan
g.      Bentuk yang muncul berulang-ulang pada satuan bahasa yang lebih besar (klausa,kalimat) apabila maknanya berbeda secara polisemi adalah merupakan morfem yang sama.
Umpamanya kata kepala pada kalimat-kalimat berikut :
-          Ibunya menjadi kepala sekolah
-          Nomor teleponnya tertera pada kepala surat itu


B.     Alomorf dan Morf
Pada umumnya sebuah morfem hanya memiliki sebuah alomorf. Namun, ada juga morfem yang direalisasikan dalam bentuk alomorf. Sedangkan morf adalah bentuk yang belum diketahui statusnya, apakah sebagai morfem atau alomorf. Jadi, sebenarnya wujud fisik morf adalah sama dengan wujud fisik alomorf. Sedangkan morfem merupakan “abstraksi” dari alomorf atau alomorf-alomorf yang ada.
Misalnya :
Morfem
Alomorf
Contoh
ber-
ber-
be-
bel-
bertemu, berdoa
beternak, bekerja
belajar
me-
me-
mem-
men-
meny-
meng-
menge-
melihat, merawat
membaca, membawa
menduga, mendengar
menyisir, menyusur
menggali, mengebor
mengecat, mengetik



C.  Jenis Morfem

1.      BEBAS (Dasar)
Morfem yang tanpa keterkaitannya dengan morfem lain dapat langsung digunakan dalam peraturan.
Contoh : morfem {pulang}, {pergi}

2.      TERIKAT (Dasar dan Afiks)
Morfem yang harus terlebih dahulu bergabung dengan morfem lain untuk dapat langsung digunakan dalam peraturan.
Catatan : seluruh afiks dalam bahasa Indonesia termasuk dalam morfem terikat.
Disamping itu, banyak juga morfem terikat yang berupa morfem dasar. Contoh : {juang}, {geletak}. Kedua morfem tersebut harus terlebih dahulu bdigabung dengan morfem lain, misalnya diberi afiks ber-, dan ter- menjadi berjuang, tergeletak.

D.     Morfem dasar, Bentuk dasar, Pangkal (stem), Akar, dan Leksem.
Dalam suatu proses morfologis, sebuah morfem dasar dapat menjadi bentuk dasar atau dasar (base). Artinya, dapat diberi afiksasi, redublikasi, komposisi maupun pemajemukan.
Contoh : “berbicara”. Terdiri sari morfem {ber-} dan morfem {-bicara}; maka morfem {-bicara} adalah morfem dasar.
Pangkal atau stem digunakan untuk menyebut bentuk dasar dalam proses pembentukan kata inflektif, atau pembubuhan afiks inflektif.
Misalnya :
-          “membeli”. Pangkalnya adalah “beli”
-          “mendaratkan”. Pangkalnya adalah “daratkan”
-          “menangisi”. Pangkalnya adalah “tangisi”

Akar (root) digunakan untuk menyebut bentuk yang tidak dapat dianalisis lebih jauh lagi. Artinya, akar adalah bentuk yang tersisa setelah semua afiksnya ditinggalkan.
            Misalnya : “memberlakukan”
Jika semua afiksasinya dihilangkan (yaitu prefiks me-, prefiks ber-, dan sufiks -kan) dengan cara tertentu, maka yang tersisa adalah kata “laku”, yang merupakan akar dari kata “memberlakukan”.
            Leksem dapat digunakan dalam dua bidang kajian linguistic, yaitu bidang morfologi dan semantic. Dalam kajian morfologi, leksem digunakan untuk mewadahi konsep “bentuk yang akan menjadi kata” melalui proses morfologi. Misalnya bentuk “PUKUL” adalah sebuah leksem yang akan menurunkan kata-kata seperti “memukul, dipukul, terpukul, pukul, pukulan, pemukul dan pemukulan”.
 Catatan : Dalam konvensi ‘morfologi’ leksem ditulis dengan huruf kapital semua.
            Dari bentuk leksem, terdapat pula bentuk-bentuk turunannya yaitu leksikon, leksikal, leksikologi, dan leksikografi.
Morfem afiks adalah morfrm yang tidak dapat menjadi dasar dalam pembentukan kata, tetapi hanya menjadi unsur pembentuk dalam proses afiksasi. Morfem afiks dalam bahasa Indonesia diantaranya adalah :
-          Prefiks, yaitu afiks yang dibibihkan diawal kata dasar.
(Prefiks ber-, me-, per-, di-, ter-, se-, dan ke-)
-          Infiks, yaitu afiks yang dibubuhkan ditengah kata dasar.
(Infiks -el, -em, -er)
-          Sufiks, yaitu afiks yang dibubuhkan diakhir kata dasar.
(-kan, -i, -an, -nya)
-          Konfiks, yaitu afiks yang dibubuhkan diawal dan diakhir kata dasar secara bersamaan.
(ke-an, ber-kan, pe-an, per-an, dan se-nya)
-          Klofiks, yaitu afiks yang dibubuhkan diawal dan diakhir kata dasar, namun tidak  secara sekaligus, melainkan bertahap.
(me-kan, me-i, memper, memper-kan, memper-i, ber-kan, di-kan, di-i, diper-, diper-kan, diper-i, terk-kan, ter-i, ter-per, terper-kan, teper-i)
- Simulfiks, yaitu ragam non-baku dari afiks nasal yang direalisasikan dengan nasal m-, n-, ny-, ng-, dan nge-. (Kridalaksana:1989).
Contoh : nulis, nyisir, ngambil dan ngecat.


DAFTAR PUSTAKA:


Chaer, Abdul. 2015. Morfologi Bahasa Indonesia: Pendekatan Proses. Jakarta: Rineka Cipta.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar