RESUME MORFOLOGI
Dosen Pengampu : Diana Mayasari, M.Pd.
Nama : Kholifatur Riski Amalia
NIM : 166008 / PBSI 16C
IDENTIFIKASI
MORFEM
Morfem
adalah satuan gramatikal terkecil yang memiliki makna. Dengan kata lain
‘satuan’ tersebut tidak dapat dianalisis menjadi lebih kecil lagi tanpa merusak
maknanya.
Contoh
: bentuk “Membeli” (dapat dianalisis menjadi dua bentuk terkecil) yaitu;
Bentuk terkecil
|
Morfem / Bukan morfem
|
Jenis morfem
|
Keterangan
|
|
{Me-}
|
v
|
Morfem afiks
|
Secara
gramatikal memiliki makna
|
|
{-beli}
|
v
|
Morfem dasar
|
Secara
gramatikal memiliki makna
|
|
Sedangkan bentuk “beli” tidak dapat
dianalisis menjadi lebih kecil lagi, karena ia sudah menjadi satu morfem.
|
||||
{be-}
|
v
|
Tidak memiliki makna
|
||
{-li}
|
v
|
Tidak memiliki makna
|
||
A.
Identifikasi
morfem
Satuan bahasa merupakan komposit antara bentuk dan
makna. Oleh karena itu, untuk menetapkan sebuah bentuk antara morfem atau bukan
morfem, didasarkan pada kriteria bentuk dan makna itu. Hal-hal berikut dapat
dijadikan pedoman untuk menentukan morfem dan bukan morfem.
a. Dua
bentuk yang sama atau lebih memiliki makna yang sama merupakan sebuah morfem.
-
Bulan
depan dia akan menikah
-
Sudah tiga bulan dia belum bayar
uang spp
b. Dua
bentuk yang sama atau lebih bila memiliki makna yang berbeda, merupakan dua
morfem yang berbeda.
-
Bank Indonesia memberi bunga
5% pertahun
-
Dia datang membawa seikat bunga
c. Dua
buah bentuk yang berbeda, tetapi memiliki makna yang sama, merupakan dua morfem
yang berbeda. Umpamanya pada kata ayah dan bapak
-
Ayah
pergi ke Medan
-
Bapak
baru pulang dari Medan
d. Bentuk-bentuk
yang mirip tetapi maknanya yang sama adalah morfem yang sama, asal perbedaan
bentuk tersebut dapat dijelaskan secara fonologis. Umpamanya, bentuk-bentuk me-, mem-, men-, meny-, meng-, dan menge- pada kata-kata berikut adalah
sebuah morfem yang sama.
-
melihat
-
membina
-
mendengar
-
menyusul
-
mengambil
-
mengecat
e. Bentuk
yang hanya muncul dengan pasangan satu-satunya adalah juga sebuah morfem. Umpamanya
bentuk renta pada konstruksi “tua renta”, dan bentuk kuyup pada konstruksi “basah kuyup”
adalah morfem.
Contoh
lain, bentuk bugar pada segar bugar dan bentuk mersik pada
kering mersik
f. Bentuk
yang muncul berulang – ulang pada satuan yang lebih besar apabila memiliki
makna yang sama adalah juga merupakan morfem yang sama. Misalnya bentuk “baca”
pada kata – kata berikut :
-
membaca
-
pembaca
-
pembacaan
-
bacaan
-
terbaca
-
keterbacaan
g. Bentuk
yang muncul berulang-ulang pada satuan bahasa yang lebih besar (klausa,kalimat)
apabila maknanya berbeda secara polisemi adalah merupakan morfem yang sama.
Umpamanya
kata kepala pada kalimat-kalimat berikut :
-
Ibunya menjadi kepala sekolah
-
Nomor teleponnya tertera pada kepala
surat itu
B.
Alomorf
dan Morf
Pada umumnya sebuah morfem hanya memiliki sebuah
alomorf. Namun, ada juga morfem yang direalisasikan dalam bentuk alomorf.
Sedangkan morf adalah bentuk yang belum diketahui statusnya, apakah sebagai
morfem atau alomorf. Jadi, sebenarnya wujud fisik morf adalah sama dengan wujud
fisik alomorf. Sedangkan morfem merupakan “abstraksi” dari alomorf atau
alomorf-alomorf yang ada.
Misalnya
:
Morfem
|
Alomorf
|
Contoh
|
ber-
|
ber-
be-
bel-
|
bertemu,
berdoa
beternak,
bekerja
belajar
|
me-
|
me-
mem-
men-
meny-
meng-
menge-
|
melihat,
merawat
membaca,
membawa
menduga,
mendengar
menyisir,
menyusur
menggali,
mengebor
mengecat,
mengetik
|
C.
Jenis
Morfem
1. BEBAS
(Dasar)
Morfem yang tanpa keterkaitannya dengan morfem lain
dapat langsung digunakan dalam peraturan.
Contoh
: morfem {pulang}, {pergi}
2. TERIKAT
(Dasar dan Afiks)
Morfem yang harus terlebih dahulu bergabung dengan
morfem lain untuk dapat langsung digunakan dalam peraturan.
Catatan
: seluruh afiks dalam bahasa Indonesia termasuk dalam morfem terikat.
Disamping
itu, banyak juga morfem terikat yang berupa morfem dasar. Contoh : {juang}, {geletak}. Kedua morfem
tersebut harus terlebih dahulu bdigabung dengan morfem lain, misalnya diberi
afiks ber-, dan ter- menjadi berjuang, tergeletak.
D.
Morfem
dasar, Bentuk dasar, Pangkal (stem), Akar, dan Leksem.
Dalam suatu proses morfologis, sebuah morfem dasar
dapat menjadi bentuk dasar atau dasar
(base). Artinya, dapat diberi afiksasi, redublikasi, komposisi maupun
pemajemukan.
Contoh : “berbicara”. Terdiri sari morfem {ber-} dan
morfem {-bicara}; maka morfem {-bicara} adalah morfem dasar.
Pangkal
atau stem digunakan untuk menyebut bentuk dasar dalam proses
pembentukan kata inflektif, atau pembubuhan afiks inflektif.
Misalnya :
-
“membeli”. Pangkalnya adalah “beli”
-
“mendaratkan”. Pangkalnya adalah
“daratkan”
-
“menangisi”. Pangkalnya adalah “tangisi”
Akar
(root) digunakan untuk menyebut bentuk yang tidak dapat
dianalisis lebih jauh lagi. Artinya, akar adalah bentuk yang tersisa setelah
semua afiksnya ditinggalkan.
Misalnya : “memberlakukan”
Jika
semua afiksasinya dihilangkan (yaitu prefiks me-, prefiks ber-, dan sufiks
-kan) dengan cara tertentu, maka yang tersisa adalah kata “laku”, yang
merupakan akar dari kata “memberlakukan”.
Leksem
dapat digunakan dalam dua bidang kajian linguistic, yaitu bidang morfologi
dan semantic. Dalam kajian morfologi, leksem digunakan untuk mewadahi konsep
“bentuk yang akan menjadi kata” melalui proses morfologi. Misalnya bentuk
“PUKUL” adalah sebuah leksem yang akan menurunkan kata-kata seperti “memukul, dipukul, terpukul, pukul, pukulan,
pemukul dan pemukulan”.
Catatan : Dalam konvensi ‘morfologi’ leksem
ditulis dengan huruf kapital semua.
Dari bentuk leksem, terdapat pula
bentuk-bentuk turunannya yaitu leksikon, leksikal, leksikologi, dan
leksikografi.
Morfem afiks adalah
morfrm yang tidak dapat menjadi dasar dalam pembentukan kata, tetapi hanya
menjadi unsur pembentuk dalam proses afiksasi. Morfem afiks dalam bahasa
Indonesia diantaranya adalah :
-
Prefiks,
yaitu afiks yang dibibihkan diawal kata dasar.
(Prefiks
ber-, me-, per-, di-, ter-, se-, dan ke-)
-
Infiks, yaitu afiks yang
dibubuhkan ditengah kata dasar.
(Infiks -el, -em, -er)
-
Sufiks,
yaitu afiks yang dibubuhkan diakhir kata dasar.
(-kan, -i, -an, -nya)
-
Konfiks,
yaitu
afiks yang dibubuhkan diawal dan diakhir kata dasar secara bersamaan.
(ke-an, ber-kan, pe-an, per-an, dan
se-nya)
-
Klofiks,
yaitu afiks yang dibubuhkan diawal dan diakhir kata dasar, namun tidak secara sekaligus, melainkan bertahap.
(me-kan, me-i, memper, memper-kan,
memper-i, ber-kan, di-kan, di-i, diper-, diper-kan, diper-i, terk-kan, ter-i,
ter-per, terper-kan, teper-i)
- Simulfiks, yaitu ragam non-baku dari afiks nasal yang direalisasikan dengan nasal m-, n-, ny-, ng-, dan nge-. (Kridalaksana:1989).
- Simulfiks, yaitu ragam non-baku dari afiks nasal yang direalisasikan dengan nasal m-, n-, ny-, ng-, dan nge-. (Kridalaksana:1989).
Contoh
: nulis, nyisir, ngambil dan ngecat.
DAFTAR PUSTAKA:
Chaer, Abdul. 2015. Morfologi Bahasa Indonesia: Pendekatan Proses. Jakarta: Rineka
Cipta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar