Ketika aku tak bersamamu, aku hanya mampu menyampaikan
rindu melalui halaman sosial kesayanganku. Seperti sekarang ini, entah apa yang akan aku tulis
tentang rindu ini, aku biarkan jemariku berjalan sesukanya.
Bukannya tidak mau menghubungimu secara langsung dan
memberi tahu tentang rindu ini, hanya saja menghubungi seorang abdi negara saat
ia sedang bertugas sama saja seperti mencari jarum di atas tumpukan jerami.
Sulit. Jerami itu terlalu banyak untuk menimbun satu jarum. Sepertimu, yang
berkemungkinan kecil bisa menggunakan telepon genggam semaumu saat sedang
menjalankan tugas penting.
Aku
menulis curahan hatiku pada halaman blogku bukan karena aku merasa kesepian.
Bukan, sama sekali bukan. Aku hanya ingin mengabadikan rindu, yang bisa kau
baca ketika kau pulang agar kau tau, kapan aku merindu. Setiap hari. Bukan aku
tidak bisa melupakanmu barang semenit, hanya saja aku tidak tau bagaimana cara
merindu secara kerkala.
Aku jadi ingat tentang kejadian belasan tahun yang lalu,
saat kamu baru pertama kali masuk Secaba (Sekolah Calon Bintara), sebelum kamu
benar-benar menjadi pasukan khusus seperti sekarang ini. Yap ! tepat sekali,
aku akan mempostingnya di blogku sekarang. Kali ini aku ingin terbang pada masa
lalu, masa-masa saat kita masih belum menikah. Apa kamu masih ingat ? jika
tidak maka sebentar lagi kamu akan mengingatnya, Cerita pendek ini aku persembahkan
untukmu, suamiku yang sedang bertugas di ujung belahan Negara Indonesia yang
tidak bisa aku sebutkan daerahnya. aku beri judul cerita ini “Rindu E-legan”.
Jakarta.
Friday, 25 Juny 2004 / 08 : 34 pm
Tiga
bulan berlalu.
Kala itu kau datang setelah sekian lama tanpa kabar.
Teringat terakhir kali aku meminta padamu dengan rasa penuh harap, terpaksa
namun pasti.
“Jangan hubungi aku, sebelum kamu benar-benar lulus
ujianmu”
Bukan karena apa-apa, aku hanya ingin aku tidak menjadi
pengganggu fokusmu. Kamu mengiyakan.
Waktu berjalan dengan sepi. Tanpa kabar apapun darimu,
rupanya kamu telah menjalankan keinginanku. Detik berganti menit dan jam, hari
pun telah berganti bulan.
Namamu terpampang pada telepon pribadiku.
“Kenapa dia berani menghubungiku ? bukankah ia hampir
berhasil menjalankan keinginanku beberapa bulan lalu ?” gumamku dalam batin.
“Selamat malam dik Ifa” sapanya sederhana.
“Selamat malam mas Galih”
“Bagaimana kabarmu dik ? apa kamu masih tetap cerewet
seperti sebelum permintaanmu aku turuti ?” lelucon santainya memecahkan
suasana. Aku tertawa kecil.
“kabarku sebaik yang kamu kira mas, kamu sendiri
bagaimana kabarnya ? sudah semakin cepatkah larimu ? bagaimana dengan wanita
bidan yang sempat kau ceritakan dulu ?”
“Aku punya kabar baik dik Ifa” Jawaban yang singkat
dengan suara tersenyum muncul dari ujung telepon. Rupanya pria ini tidak
menggubris pertanyaanku.
“Kabar baik apa mas Galih ? Ifa harap Ifa ikut senang
mendengarnya”
“Coba, tebak dik !” dia tertawa cengengesan, dan membuat
aku semakin penasaran.
“kamu bisa lari 36 kali putaran dalam waktu 12 menit ?”
aku sengaja membuat jawaban yang tidak masuk akal supaya aku lebih cepat
mengetahui jawaban yang sebenarnya.
“Kamu masih tetap nakal ya dik, mana ada lari 12 menit
dapat putaran sebanyak itu. Aku lulus tes dik. hehe” suara bahagia terdengar
begitu jelas.
“Oh, benarkah mas ? kapan ?”
“Pengumumannya tiga hari yang lalu dik, dan seminggu lagi
aku mulai pendidikan”
“Alhamdulillah, usahamu tidak sia-sia mas. Ifa sangat
senang mendengar kabar ini, berapa lama kamu pendidikannya mas ?”
“Alhamdulillah
dik, hasil memang tidak pernah menghianati proses. Dan aku pendidikan selama
lima bulan dik. Dan mungkin ini juga terakhir kalinya kita ngobrol sebelum aku
berangkat pendidikan”
“Oh lima
bulan ya ? kenapa terakhir ? apa kamu tidak mau menelponku saat jam istirahatmu
?”
“Bukan
tidak mau dik Ifa, tapi saat pendidikan pertama calon bintara, siswa tidak di
izinkan membawa telepon genggam maupun alat elektronik lainnya dik, jadi aku
juga tidak akan membawa handphone. Nyari amannya dik”
“Jadi,
kamu mau pergi selama lima bulan dan tanpa mengabariku sama sekali ?”
“Sepertinya
begitu dik, mas juga belum begitu paham dik Ifa sayang. Nanti selama mas
pendidikan, dik Ifa jangan sampai sakit ya. Lambungnya di jaga jangan sampai
kambuh, dik Ifa belajar yang rajin ya, mas disana juga belajar sama seperti dik
Ifa”
Air mataku menetes tanpa suara.
“Iya mas Galih, mas Galih juga jaga diri baik-baik ya.
Disana yang fokus belajarnya, jangan mikirin Ifa terus. Ifa akan tetap cantik
sampai mas Galih pulang”
Dia tertawa kecil disusul mengucap “Maaf, mas baru datang
lantas mau pergi lagi, dik Ifa juga jaga diri baik-baik ya, mas akan
merindukanmu”
“Jangan
pikirkan itu mas, yang terpenting kamu fokus pada pendidikan. Ifa juga akan
merindukan mas Galih. Jaga diri dan hati mas untuk Ifa ya”
“SIAP
LAKSANAKAN dokter cantikku !”
Jawabannya sedikit membuatku terhibur, aku menangis berteman
senyum.
Aku merasakan bagaimana ia berpamitan dengan mata penuh
binar. Membawa semangat menjemput impian dan juga meninggalkan sepotong
hatinya, aku.
Laksanakan kewajibanmu dengan baik dan lekaslah pulang
untukku. Aku menunggumu Galih Adidamar.
Jam
dinding digitalku yang di lengkapi dengan kalender menunjukkan serangkaian
waktunya.
Saturday, 28 August 2004 / 09:59 pm
Lagi-lagi waktu berjalan dengan sepi, kamu sedang
menjalani dikmaba (pendidikan pertama bintara) dan aku pun masih tetap fokus
pada kuliahku. Ya, kuliah dengan program studi kedokteran memang sedikit
menyita waktu. Malam hari, saat aku tengah letih usai menjalani serangkaian
praktikum di salah satu Rumah Sakit Negeri di Jakarta, nomor tidak di kenal
berhias pada layar telepon pribadiku.
“Assalammu’alaikum”
suara gagah rupawan muncul dari benda elektronik ini.
“Wa’alaikumsalam,
maaf ini siapa ?”
“Dengan
Ifa Amalia ?”
“Iya,
saya sendiri” jawabku dengan nada penuh tanya.
“Masih
ingat aku ? ” nada itu terdengar disertai senyum yang lembut.
“Maaf,
mungkin ada beberapa nomor yang sudah terhapus dari handphone saya. Maaf dengan
siapa saya berbicara ?” kalimatku menjadi formal mengingat aku belum mengetahui
siapa si penelepon ini .
“Aku
Galih Adidamar dik”
Aahh rupanya alam telah menghadiahiku bunga sebelum musim
semi. Senyumanku sudah tidak bisa tertahan lagi, mereka melumuri wajahku dan
memaksaku untuk bersumringah dalam suka.
“Mas
Galih” jawabaku penuh dengan rasa haru, rindu seolah sudah sampai di puncaknya.
“Iya dik
Ifa, ini mas Galih. Maaf tidak pernah menghubungimu. Dik Ifa bagaimana kabarnya
?”
Suara pria itu terdengar berbeda dari dua bulan yang
lalu. Lebih cepat, lebih tegas, namun tetap lembut.
“Alhamdulillah,
Ifa baik mas. Mas Galih bagaimana ? sehat juga kan ? bagaimana pendidikannya ?
lancarkah ?”
Lagi-lagi ia tertawa kecil, ini kali pertama aku mendengar
tawanya setelah dua bulan ia tidak memberi kabar.
“Dik Ifa
tenang saja, mas galih bahkan lebih sehat dari sebelumnya. Badan mas Galih juga
semakin gagah, apa dik Ifa tidak ingin melihatnya ?”
Pipiku memerah tanpa sepengetahuannya, ternyata pria ini
semakin nakal saja.
“Ini
nomor siapa mas ? bagaimana mas bisa menghubungi Ifa ?”
“Apa dik
Ifa benar-benar tidak ingin melihat mas berlari mengelilingi lapangan hanya
dengan menggunakan celana loreng ini ? mas makin gagah dan ganteng loh dik”
Aku tersipu malu.
“Mas, teleponnya Ifa tutup ya. Dan Ifa tidak akan
mengangkat telepon dari mas lagi. Oke,
semoga tetap rindu Ifa daahhh”
“Eh, eh jangan dong dik. Mas tidak menjamin bisa
menghubungimu lagi kalau kamu mau menutup teleponnya”
“Habis, mas Galih tidak mau berhenti menggoda Ifa sih”
jawabanku sedikit merajuk memanja.
“Hehe, maaf dik. Oke mas akan serius sekarang. Ini nomor
telepon koperasi Batalyon sini dik, sekarang adalah waktu istirahat usai
latihan menembak tadi, sekaligus berbuka puasa dik. Jadi komandan tidak akan
tau kalau mas sedang menelepon dik Ifa. hehe”
“Ohh.. sersan Galih nakal yaa, mencuri-curi waktu
istirahat buat telepon wanita. Push up 150 kali !”
“hehehe, dik Ifa saja yang push up nanti mas yang hitung”
Belum sempat aku menjawabnya, dan....
“Dik Ifa
sudah dulu ya, waktu istirahat tinggal 15 menit lagi, aku harus persiapan untuk
kembali ke barak. Dik Ifa jaga diri baik-baik sampai mas pulang”
“SIAP
LAKSANAKAN. Jaga diri mas juga ya, saat jauh dari Ifa mas jangan sampai
terluka”
“SIAP
dokter, selamat malam”
“Selamat
malam Sersan Galih”
Tutt.. tutt.. tuut..
Aahh...
bibir dan mata tak henti menunjukkan ekspressi bahagia. Mengulas senyum dengan
mata terpejam. Semua terasa indah.
Untukmu yang telah menghadiahiku suara yang berbeda.
Terima kasih telah sedikit meredakan rindu yang sempat membabi buta.
Jika
sempat, datanglah ke rumah saat hari raya. Ibuku tak henti bertanya tentang
kabarmu. Jika kewajiban sudah menuntutmu untuk tetap berada di sana, kirimkan
aku suaramu. Rindu harian ini sudah berkembang menjadi bulan.
-Ending-
Bagaimana ? Mas Galih pasti sudah ingat kan ?
Untukmu yang sedang menjalankan misi besar di ujung dunia,
semoga kembali dengan selamat.
Aku merindukanmu.
Pertinjau-Kembali
ke penyuntingan-Posting
Alhamdulillah, akhirnya selesai juga berlabuh pada masa
lalu. Tidak terasa jam dinding sudah menunjukkan pukul 10:30 pm, aku harus
segera tidur agar besok tidak terlambat mengurus anak-anak dan juga mengobati
pasien-pasienku.
Sunday,
01 May 2016
Hari sudah berganti bulan, musim gugur pun berganti semi.
Namun kau tak jua pulang. Apa yang bisa aku lakukan ? aku sungguh merasakan
rindu seperti rindu saat pertama kau menjalankan pendidikan Calon Bintara.
Rindu ini masih terasa meskipun aku sudah terbiasa tanpamu.
Waktu
menunjukkan pukul 9 malam, anak-anak sudah bermain di pulau mimpi. Hanya
tinggal aku, berteman dengan sepi. Aku mengambil laptop, mengambil posisi duduk
pada ranjangku. Mengarahkan anak panah pada Google Chrome lalu mengetik sesuatu
yang biasa aku ketik. “www.blogger.com” . lagi-lagi aku hanya bisa mencurahkan perasaanku pada
halaman kesayangan ini.
Tambahkan posting :
Selamat
malam halaman kesayanganku, kali ini aku tidak akan bercerita banyak padamu,
aku hanya akan menuliskan beberapa puisi pada ragamu. Puisi tentang rindu.
Sunyi-Senyap
Karya : Ifa Amalia
Sunyi-senyap
Aku ilalang
Merindu bintang yang biasa terlintang
Sunyi-senyap
Aku
ilalang
Tertinggal
diantara senja yang hendak petang
Sunyi-senyap
Aku ilalang yang merindu gilang
Di tengah ladang yang paling lapang
Sang gilang perlahan menghilang
Sunyi-senyap. Kekasih.
Rindu Berserakan
Karya : Ifa Amalia
Aku biarkan rindu berserakan
Dan melalang buana
Menggilang tanpa damar dalam petang
Si wajah tulus bertopi baja
Telah tiba di ujung ruang hati kerinduan
Biar aku rapikan rindu
Hingga kau tiba pada purnama mendatang.
Lelaki Berpadu Rindu
Karya : Ifa Amalia
Lelaki Berpadu Rindu
Ia datang membawa bunga sakura
Sekejap menyegarkan musim tanpa suara
Lelaki
Berpadu Rindu
Meraih
jemari dalam dingin
Mengajak
mendekat dalam dekap
Menghangatkan
dalam senyap
Lelaki Berpadu Rindu
Mereka berbahasa dalam diam
Mereka bercengkrama dalam tentram
Sunyi, diam tak bergeming
Lelaki Berpadu Rindu
Kehadiran
atau kepergianmu sama saja
Dua-duanya
tetap berpadu rindu.
Mungkin
dari sekian banyak wanita di bumi ini, hanya sedikit yang mampu menyampaikan
rindu dalam diam. Mungkin diantara mereka ada yang ingin segera menyampaikan
rindu namun keadaan membatasinya, lantas ai lebih memilih menyimpannya
rapat-rapat dan menunggu hingga sang rindu pulang.
Sama
halnya dengan seorang persit (Persatuan Istri Tentara).
Ketika ia sakit, bukan suami yang menemaninya. Melainkan
hanya duplikat wajah sang suami.
Ketika ia senang, belum tentu terasa sempurna, suaminya
sedang bertaruh nyawa dalam peperangan.
Ketika ia hamil, dimana biasanya seorang istri semakin
dimanjakan, persit justru mengerjakan semuanya sendirian.
Ketika ia melahirkan, bukan suami yang mengadzankan buah
hati mereka, tapi sang ayah. Kakek si buah hati.
Ketika ia merindu, bukan pertemuan sesuka waktu yang ia
dapatkan. Ia harus menunggu hingga sang suami selesai menjalankan tugasnya yang
bisa satu bulan bahkan satu tahun lamanya, dan bisa jadi mereka ada yang
memilih untuk sementara mencurahkan rindu pada media elektronik seperti saya
ini. Tapi saya yakin itu adalah rindu yang sederhana, yang istimewa telah
mereka sampaikan pada Sang Kuasa. Ia mengadu pada Tuhan, memohon atas
keselamatan suaminya, memohon perlindungan lebih dari 24 jam, dan memohon agar
nyawa yang tetap kembali pulang memeluk ia dan anak-anaknya. Karena tidak semua
rindu dapat di curahkan melalui media elektronik dan rindu yang seperti itulah
yang aku sebut Rindu E-legan.
-END-
“Cerita ini hanyalah fiktif belaka, apabila ada
kesamaan nama, alamat ataupun kejadian itu sebuah ketidak sengajaan dan saya
ucapkan mohon maaf. Semoga bisa menghibur pembaca setia blog saya dan mari
cintai Negeri kita minimal bahasanya.
Silakan berkomentar :-)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar