Rabu, 15 Maret 2017

Rindu E-legan



Ketika aku tak bersamamu, aku hanya mampu menyampaikan rindu melalui halaman sosial kesayanganku. Seperti sekarang ini, entah apa yang akan aku tulis tentang rindu ini, aku biarkan jemariku berjalan sesukanya.
Bukannya tidak mau menghubungimu secara langsung dan memberi tahu tentang rindu ini, hanya saja menghubungi seorang abdi negara saat ia sedang bertugas sama saja seperti mencari jarum di atas tumpukan jerami. Sulit. Jerami itu terlalu banyak untuk menimbun satu jarum. Sepertimu, yang berkemungkinan kecil bisa menggunakan telepon genggam semaumu saat sedang menjalankan tugas penting.
            Aku menulis curahan hatiku pada halaman blogku bukan karena aku merasa kesepian. Bukan, sama sekali bukan. Aku hanya ingin mengabadikan rindu, yang bisa kau baca ketika kau pulang agar kau tau, kapan aku merindu. Setiap hari. Bukan aku tidak bisa melupakanmu barang semenit, hanya saja aku tidak tau bagaimana cara merindu secara kerkala.


Aku jadi ingat tentang kejadian belasan tahun yang lalu, saat kamu baru pertama kali masuk Secaba (Sekolah Calon Bintara), sebelum kamu benar-benar menjadi pasukan khusus seperti sekarang ini. Yap ! tepat sekali, aku akan mempostingnya di blogku sekarang. Kali ini aku ingin terbang pada masa lalu, masa-masa saat kita masih belum menikah. Apa kamu masih ingat ? jika tidak maka sebentar lagi kamu akan mengingatnya, Cerita pendek ini aku persembahkan untukmu, suamiku yang sedang bertugas di ujung belahan Negara Indonesia yang tidak bisa aku sebutkan daerahnya. aku beri judul cerita ini “Rindu E-legan”.

            Jakarta. Friday, 25 Juny 2004 / 08 : 34 pm
            Tiga bulan berlalu.
Kala itu kau datang setelah sekian lama tanpa kabar. Teringat terakhir kali aku meminta padamu dengan rasa penuh harap, terpaksa namun pasti.
“Jangan hubungi aku, sebelum kamu benar-benar lulus ujianmu”
Bukan karena apa-apa, aku hanya ingin aku tidak menjadi pengganggu fokusmu. Kamu mengiyakan.
Waktu berjalan dengan sepi. Tanpa kabar apapun darimu, rupanya kamu telah menjalankan keinginanku. Detik berganti menit dan jam, hari pun telah berganti bulan.
Namamu terpampang pada telepon pribadiku.
“Kenapa dia berani menghubungiku ? bukankah ia hampir berhasil menjalankan keinginanku beberapa bulan lalu ?” gumamku dalam batin.
“Selamat malam dik Ifa” sapanya sederhana.
“Selamat malam mas Galih”
“Bagaimana kabarmu dik ? apa kamu masih tetap cerewet seperti sebelum permintaanmu aku turuti ?” lelucon santainya memecahkan suasana. Aku tertawa kecil.
“kabarku sebaik yang kamu kira mas, kamu sendiri bagaimana kabarnya ? sudah semakin cepatkah larimu ? bagaimana dengan wanita bidan yang sempat kau ceritakan dulu ?”
“Aku punya kabar baik dik Ifa” Jawaban yang singkat dengan suara tersenyum muncul dari ujung telepon. Rupanya pria ini tidak menggubris pertanyaanku.
“Kabar baik apa mas Galih ? Ifa harap Ifa ikut senang mendengarnya”
“Coba, tebak dik !” dia tertawa cengengesan, dan membuat aku semakin penasaran.
“kamu bisa lari 36 kali putaran dalam waktu 12 menit ?” aku sengaja membuat jawaban yang tidak masuk akal supaya aku lebih cepat mengetahui jawaban yang sebenarnya.
“Kamu masih tetap nakal ya dik, mana ada lari 12 menit dapat putaran sebanyak itu. Aku lulus tes dik. hehe” suara bahagia terdengar begitu jelas.
“Oh, benarkah mas ? kapan ?”
“Pengumumannya tiga hari yang lalu dik, dan seminggu lagi aku mulai pendidikan”
“Alhamdulillah, usahamu tidak sia-sia mas. Ifa sangat senang mendengar kabar ini, berapa lama kamu pendidikannya mas ?”
            “Alhamdulillah dik, hasil memang tidak pernah menghianati proses. Dan aku pendidikan selama lima bulan dik. Dan mungkin ini juga terakhir kalinya kita ngobrol sebelum aku berangkat pendidikan”
            “Oh lima bulan ya ? kenapa terakhir ? apa kamu tidak mau menelponku saat jam istirahatmu ?”
            “Bukan tidak mau dik Ifa, tapi saat pendidikan pertama calon bintara, siswa tidak di izinkan membawa telepon genggam maupun alat elektronik lainnya dik, jadi aku juga tidak akan membawa handphone. Nyari amannya dik”
            “Jadi, kamu mau pergi selama lima bulan dan tanpa mengabariku sama sekali ?”
            “Sepertinya begitu dik, mas juga belum begitu paham dik Ifa sayang. Nanti selama mas pendidikan, dik Ifa jangan sampai sakit ya. Lambungnya di jaga jangan sampai kambuh, dik Ifa belajar yang rajin ya, mas disana juga belajar sama seperti dik Ifa”

Air mataku menetes tanpa suara.
“Iya mas Galih, mas Galih juga jaga diri baik-baik ya. Disana yang fokus belajarnya, jangan mikirin Ifa terus. Ifa akan tetap cantik sampai mas Galih pulang”
Dia tertawa kecil disusul mengucap “Maaf, mas baru datang lantas mau pergi lagi, dik Ifa juga jaga diri baik-baik ya, mas akan merindukanmu”
            “Jangan pikirkan itu mas, yang terpenting kamu fokus pada pendidikan. Ifa juga akan merindukan mas Galih. Jaga diri dan hati mas untuk Ifa ya”
            “SIAP LAKSANAKAN dokter cantikku !”
Jawabannya sedikit membuatku terhibur, aku menangis berteman senyum.
Aku merasakan bagaimana ia berpamitan dengan mata penuh binar. Membawa semangat menjemput impian dan juga meninggalkan sepotong hatinya, aku.
Laksanakan kewajibanmu dengan baik dan lekaslah pulang untukku. Aku menunggumu Galih Adidamar.

            Jam dinding digitalku yang di lengkapi dengan kalender menunjukkan serangkaian waktunya.
Saturday, 28 August 2004 / 09:59 pm
Lagi-lagi waktu berjalan dengan sepi, kamu sedang menjalani dikmaba (pendidikan pertama bintara) dan aku pun masih tetap fokus pada kuliahku. Ya, kuliah dengan program studi kedokteran memang sedikit menyita waktu. Malam hari, saat aku tengah letih usai menjalani serangkaian praktikum di salah satu Rumah Sakit Negeri di Jakarta, nomor tidak di kenal berhias pada layar telepon pribadiku.
            “Assalammu’alaikum” suara gagah rupawan muncul dari benda elektronik ini.
            “Wa’alaikumsalam, maaf ini siapa ?”
            “Dengan Ifa Amalia ?”
            “Iya, saya sendiri” jawabku dengan nada penuh tanya.
            “Masih ingat aku ? ” nada itu terdengar disertai senyum yang lembut.
            “Maaf, mungkin ada beberapa nomor yang sudah terhapus dari handphone saya. Maaf dengan siapa saya berbicara ?” kalimatku menjadi formal mengingat aku belum mengetahui siapa si penelepon ini .
            “Aku Galih Adidamar dik”
Aahh rupanya alam telah menghadiahiku bunga sebelum musim semi. Senyumanku sudah tidak bisa tertahan lagi, mereka melumuri wajahku dan memaksaku untuk bersumringah dalam suka.
            “Mas Galih” jawabaku penuh dengan rasa haru, rindu seolah sudah sampai di puncaknya.
            “Iya dik Ifa, ini mas Galih. Maaf tidak pernah menghubungimu. Dik Ifa bagaimana kabarnya ?”
Suara pria itu terdengar berbeda dari dua bulan yang lalu. Lebih cepat, lebih tegas, namun tetap lembut.
            “Alhamdulillah, Ifa baik mas. Mas Galih bagaimana ? sehat juga kan ? bagaimana pendidikannya ? lancarkah ?”
Lagi-lagi ia tertawa kecil, ini kali pertama aku mendengar tawanya setelah dua bulan ia tidak memberi kabar.
            “Dik Ifa tenang saja, mas galih bahkan lebih sehat dari sebelumnya. Badan mas Galih juga semakin gagah, apa dik Ifa tidak ingin melihatnya ?”
Pipiku memerah tanpa sepengetahuannya, ternyata pria ini semakin nakal saja.
            “Ini nomor siapa mas ? bagaimana mas bisa menghubungi Ifa ?”
            “Apa dik Ifa benar-benar tidak ingin melihat mas berlari mengelilingi lapangan hanya dengan menggunakan celana loreng ini ? mas makin gagah dan ganteng loh dik”
Aku tersipu malu.
“Mas, teleponnya Ifa tutup ya. Dan Ifa tidak akan mengangkat telepon dari mas lagi. Oke,  semoga tetap rindu Ifa daahhh”
“Eh, eh jangan dong dik. Mas tidak menjamin bisa menghubungimu lagi kalau kamu mau menutup teleponnya”
“Habis, mas Galih tidak mau berhenti menggoda Ifa sih” jawabanku sedikit merajuk memanja.
“Hehe, maaf dik. Oke mas akan serius sekarang. Ini nomor telepon koperasi Batalyon sini dik, sekarang adalah waktu istirahat usai latihan menembak tadi, sekaligus berbuka puasa dik. Jadi komandan tidak akan tau kalau mas sedang menelepon dik Ifa. hehe”
“Ohh.. sersan Galih nakal yaa, mencuri-curi waktu istirahat buat telepon wanita. Push up 150 kali !”
“hehehe, dik Ifa saja yang push up nanti mas yang hitung”
Belum sempat aku menjawabnya, dan....
            “Dik Ifa sudah dulu ya, waktu istirahat tinggal 15 menit lagi, aku harus persiapan untuk kembali ke barak. Dik Ifa jaga diri baik-baik sampai mas pulang”
            “SIAP LAKSANAKAN. Jaga diri mas juga ya, saat jauh dari Ifa mas jangan sampai terluka”
            “SIAP dokter, selamat malam”
            “Selamat malam Sersan Galih”
Tutt.. tutt.. tuut..

            Aahh... bibir dan mata tak henti menunjukkan ekspressi bahagia. Mengulas senyum dengan mata terpejam. Semua terasa indah.
Untukmu yang telah menghadiahiku suara yang berbeda. Terima kasih telah sedikit meredakan rindu yang sempat membabi buta.
            Jika sempat, datanglah ke rumah saat hari raya. Ibuku tak henti bertanya tentang kabarmu. Jika kewajiban sudah menuntutmu untuk tetap berada di sana, kirimkan aku suaramu. Rindu harian ini sudah berkembang menjadi bulan.
-Ending-

Bagaimana ? Mas Galih pasti sudah ingat kan ?
Untukmu yang sedang menjalankan misi besar di ujung dunia, semoga kembali dengan selamat.
Aku merindukanmu.
Pertinjau-Kembali ke penyuntingan-Posting

Alhamdulillah, akhirnya selesai juga berlabuh pada masa lalu. Tidak terasa jam dinding sudah menunjukkan pukul 10:30 pm, aku harus segera tidur agar besok tidak terlambat mengurus anak-anak dan juga mengobati pasien-pasienku.

            Sunday, 01 May 2016
Hari sudah berganti bulan, musim gugur pun berganti semi. Namun kau tak jua pulang. Apa yang bisa aku lakukan ? aku sungguh merasakan rindu seperti rindu saat pertama kau menjalankan pendidikan Calon Bintara. Rindu ini masih terasa meskipun aku sudah terbiasa tanpamu.
            Waktu menunjukkan pukul 9 malam, anak-anak sudah bermain di pulau mimpi. Hanya tinggal aku, berteman dengan sepi. Aku mengambil laptop, mengambil posisi duduk pada ranjangku. Mengarahkan anak panah pada Google Chrome lalu mengetik sesuatu yang biasa aku ketik. “www.blogger.com” . lagi-lagi aku hanya bisa mencurahkan perasaanku pada halaman kesayangan ini.

Tambahkan posting :
            Selamat malam halaman kesayanganku, kali ini aku tidak akan bercerita banyak padamu, aku hanya akan menuliskan beberapa puisi pada ragamu. Puisi tentang rindu.

Sunyi-Senyap
Karya : Ifa Amalia
Sunyi-senyap
Aku ilalang
Merindu bintang yang biasa terlintang
            Sunyi-senyap
            Aku ilalang
            Tertinggal diantara senja yang hendak petang
Sunyi-senyap
Aku ilalang yang merindu gilang
Di tengah ladang yang paling lapang
Sang gilang perlahan menghilang
Sunyi-senyap. Kekasih.


Rindu Berserakan
Karya : Ifa Amalia

Aku biarkan rindu berserakan
Dan melalang buana
Menggilang tanpa damar dalam petang
Si wajah tulus bertopi baja
Telah tiba di ujung ruang hati kerinduan
Biar aku rapikan rindu
Hingga kau tiba pada purnama mendatang.



Lelaki Berpadu Rindu
Karya : Ifa Amalia
Lelaki Berpadu Rindu
Ia datang membawa bunga sakura
Sekejap menyegarkan musim tanpa suara
            Lelaki Berpadu Rindu
            Meraih jemari dalam dingin
            Mengajak mendekat dalam dekap
            Menghangatkan dalam senyap
Lelaki Berpadu Rindu
Mereka berbahasa dalam diam
Mereka bercengkrama dalam tentram
Sunyi, diam tak bergeming
Lelaki Berpadu Rindu
            Kehadiran atau kepergianmu sama saja
            Dua-duanya tetap berpadu rindu.

            Mungkin dari sekian banyak wanita di bumi ini, hanya sedikit yang mampu menyampaikan rindu dalam diam. Mungkin diantara mereka ada yang ingin segera menyampaikan rindu namun keadaan membatasinya, lantas ai lebih memilih menyimpannya rapat-rapat dan menunggu hingga sang rindu pulang.
            Sama halnya dengan seorang persit (Persatuan Istri Tentara).
Ketika ia sakit, bukan suami yang menemaninya. Melainkan hanya duplikat wajah sang suami.
Ketika ia senang, belum tentu terasa sempurna, suaminya sedang bertaruh nyawa dalam peperangan.
Ketika ia hamil, dimana biasanya seorang istri semakin dimanjakan, persit justru mengerjakan semuanya sendirian.
Ketika ia melahirkan, bukan suami yang mengadzankan buah hati mereka, tapi sang ayah. Kakek si buah hati.
Ketika ia merindu, bukan pertemuan sesuka waktu yang ia dapatkan. Ia harus menunggu hingga sang suami selesai menjalankan tugasnya yang bisa satu bulan bahkan satu tahun lamanya, dan bisa jadi mereka ada yang memilih untuk sementara mencurahkan rindu pada media elektronik seperti saya ini. Tapi saya yakin itu adalah rindu yang sederhana, yang istimewa telah mereka sampaikan pada Sang Kuasa. Ia mengadu pada Tuhan, memohon atas keselamatan suaminya, memohon perlindungan lebih dari 24 jam, dan memohon agar nyawa yang tetap kembali pulang memeluk ia dan anak-anaknya. Karena tidak semua rindu dapat di curahkan melalui media elektronik dan rindu yang seperti itulah yang aku sebut Rindu E-legan.
-END-


“Cerita ini hanyalah fiktif belaka, apabila ada kesamaan nama, alamat ataupun kejadian itu sebuah ketidak sengajaan dan saya ucapkan mohon maaf. Semoga bisa menghibur pembaca setia blog saya dan mari cintai Negeri kita minimal bahasanya.
Silakan berkomentar :-)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar