Kamis, 11 Januari 2018

Jenis Morfem BI Berdasarkan Kemampuan Berdistribusi, Relasi, Sumber, Jumlah, Keterbukaan dan Keber

RESUME MORFOLOGI
Dosen Pengampu : Diana Mayasari, M.Pd.
Nama : Kholifatur Riski Amalia
NIM : 166008 / PBSI 16C

A.    JENIS MORFEM BERDASARKAN KEMAMPUAN BERDISTRIBUSI
Apabila diteliti lebih lanjut, ternyata bentuk-bentuk linguistik antara satu dengan lainnya mempunyai sifat tertentu biasa. Kita ambil contoh kutipan dialog antara bambang dan tarsa sebagai berikut.
Bambang         : Wah! Dari mana kamu ?
Tarsan              : Biasa. Orang kaya kok. Selalu urusan bisnis.
Bambang         : Ha! Bisnis apa ? kemarin minta uang saya seibu rupiah sekarang bilang bisnis.
Tarsan              : Kamu itu bagaimana sih? Saya ini sudah lama terkenal sebagai direktur         pabrik biting. Kamu dari mana ?
Bambang         : Kuliah
Tarsan              : Siapa yang percaya? Modelnya kacau-balau begini dari kuliah.
Dari contoh di atas, terlihat bahwa ada bentuk lingusitik yang mampu menduduki kalimat dan ada yang selalu bergandeng dengan bentuk-bentuk lain dalam menduduki kalimat.
Bahwa wah, Biasa, ha, dan kuliah pada contoh di atas mampu berdiri sendiri sebagai kalimat, sedangkan kalimat-kalimat lainya terdiri atas lebih dari satu bentuk linguistik. Misalnya kalimat dari mana kamu? Terdiri atas bentuk dari, mana, dan kamu, dan kalimat selalu urusan bisnis terdiri atas bentuk selalu, urus-, -an, dan bisnis. Akan tetapi, apabila di buktikan lebih lanjut, bentuk-bentuk yang menjadi unsur kedua kaimat terkir itu ada yang benar-benar tidak mampu berdiri sendiri sebagai kalimat. Bentuk “mana, kamu dan bisnis mampu berdiri sendiri sebagai kalimat, sebgaimana contoh berikut.
Mana? (Sambil mengulurkan tanganya ia bermaksud menagih uang yang dijanjikan kemarin).
Kamu. (Sebagai jawaban atas pertanyaan “siapa yang bertaggung jawab atas kejadian itu?”)
Bisnis. (Sebagai jawaban atas pertanyaan: “kamu sedang urusan apa dengan dia?”)
Bentuk-bentuk yang dapat dipakai secara tersendiri dalam kalimat atau tuturan biasa disebut bentuk bebas atau free from  atau free morpheme. Berbeda dengan itu, bentuk dari, urus, dan –an tidak pernah berdiri sendiri sebagai kalimat/tuturan biasa, kecuali dalam tuturan biasa tersebut?
Dalam bahasa indonesia, bentuk-bentuk yang berkondisi terakir ini ternata masih dapat juga dikelompok-kelompokan lagi. Kita ambil contoh, misalnya bentuk dari, urus dan, -an di atas. Ketiga bentuk itu sama-sama tidak dapat berdiri sendiri dalam tuturan biasa, namun satu dengan yang lain mempunyai perbedaan. Bentuk dari dalam kalimat dari mana kamu? dapat terpisah dengan unsur yang mengikutinya. Hal itu terbukti dengan dapatnya disisipi bentuk lain, misalnya arah, di antara bentuk dari dan mana sehingga menjadi dari arah mana kamu? kondisi itu tidak dapat pada bentuk urus- dan –an. Antara bentuk urus- dan –an pada kalimat selalu urusan bisnis tidak dapat disisipi benyuk lain jenis apa pun. Kedua bentuk terkhir ini benar-benar tidak dapat berdiri sendiri, baik dalam kedudukanya sebagai kalimat maupun sebagai kata yang menjadi unsur pembentuk kalimat. Bentuk-bentuk linguistik yang berkondisi seperti itu biasanya di sebut sebagai bentuk terikat (bound from atau bound morpheme), sedangkan bentuk yang masih mempunyai kebebasan, sebgaimana bentuk dari dikatakan sebagai bentuk bentuk semibebas (Semi-free form atau semi free morpheme).
Pada Kalimat terakhir kutipan dialog di atas, terdapat bentuk yang mempunyai kemampuan lebih terika jika dibandikan dengan bentuk lainya. Bentuk balau pada kalimat Modelnya kacau balau begini dari kuliah. Selalu muncul bersama-sama dengan kacau. Akan tetapi, bentuk kacau dapat digunakan tanpa bentuk balau. Salain itu, bentuk balau tidak pernah berdistribusi bersama-sama dengan bentuk lain selain bentuk kacau. Keadaan itu tidak dimiliki oleh bentuk kacau yang masih dapat berdistribusi bersama-sama denganbentukselain bentuk balau, misalnya pengacu , sangat kacau, sedangkacau, dan masih banyak lagi. Bentuk yang sangat terrikat itu, sebagaimana bentuk balauu, disebut bentuk unik  atau unique form atau uniqie morpheme .

B.     JENIS MORFEM BERDASARKAN PRODUKTIFITASNYA
Bentuk-bentuk linguistik dapat dijelasakan atas dasar kemampuanya membentuk kata-kata. Pengamatan ini biasanya dibatasi oleh morfem-morfem terikat khususnya afiks. Dalam bahasa indonesia, ada morfem aktif/produktif membentuk kata-akata baru, ada yang tidak produktif, bahkan ada yang sedang cenderung produktif dan tak cenderung produktif. Misalnya morfem afiks {ke-, -an}. dengan morfem afiks ini, kita dapat membentu kata-kata baru sebanyak banyaknya : keterlalauan, kesejahtaraan, keadilan, keikutsertaan, dsb. Lain halnya dengan morfem afiks {ke-} dalam kata kekasih yang berarti yang di ..., dan berfungsi membedakan. Ia tidak lagi digunakan membuntuk kata-kata baru, kecuali hanya bentuk bentuk yang sudah ada misalnya : kehandak dan ketua. Kondisi yang sama dialami oleh afiks {-em-},{-el-}, dan {-er-}, masing-masing dalam kata gemetar, telunjuk dan gerigi. (Samsuri. Morfologi dalam pembentukan kata 1888:18)
kritika afiks itu hanya mampu berprodukisi dalam bahasa melayu dahulu, tetapi dalam bahasa indonesia sekarang sama sekalai tidak produktif. Morfem afiks mampu membentuk kata-kata baru di sebut afiks produktive affix, sedangan yang sudah tidak mampu lagi membentuk kata-kata baru disebut afiks yang tidak produkif (unproduktive afikx). 
Ada juga morfem afiks yang saat ini cenderung mengikat pemakaianaya dalam membuentuk kata-kata baru morfem afiks serapan (is) misalnya, dahulu hanya bergandeng dengan bentuk dasar dari bahasa yang sama yaitu sama-sama dari bahasa inggris tetapi sekarang dapat membentuk kata-kata baru yang membentuk kata dasar bahasa inggris misalnya : Pancasilais selain ekonomis, selain rasionalis organisatoris. Bagaimana dengan morfem (-isme), (-(n)isasi), dan morfem afiks serapan lainya sebaliknya ada juga morfem afiks yang saat ini menurut pemakainya dalam membentuk kata, kata baru. Misalnya morfem afiks (-ber) pada kalimat meraka sedang bermain kelereng, cenderung dihilangkan pemakaianya sehingga cukup diucapkan dan distulis mereka sedang main kelereng.

C.    JENIS MORFEM BERDASARKAN RELASI ANTAR UNSURNYA

Morfem-morfem segmental dalam bahasa Indonesia, ada yang unsur-unsurnya merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan dalam pemakaiannya, tetapi ada pula yang sebaliknya.
Contoh : kalimat kesuksesan selalu didambakan setiap manusia yang ingin maju.
Kalimat itu terdiri dari delapan kata.
Masing-masingnya, ada yang terdiri atas satu morfem, yaitu : (selalu) (manusia) (yang) (ingin) (maju).
Ada yang terdiri dari dua morfem, yaitu : kesuksesan, setiap; dan ada yang terdiri atas dua morfem, yaitu : didambakan.

D.     JENIS MORFEM BERDASARKAN SUMBERNYA
1.        Bahasa Indonesia Asli
Mofrem afiks yang berasal dari Bahasa Indonesia asli digolongkan menjadi empat kelompok, yaitu :
Prefiks : {meN-}, {ber-}, {peN-}
Infiks : {-el-}, {-em-}, {-er-}
Sufiks : {-an}, {-kan}, dan {-i}.
Konfiks : {pe-an}, {ke-an}, {per-an}.
Apabila morfem afiks yang berasal dari bahasa Indonesia asli hanya mempunyai arti gramatikal saja (tidak mempunyai arti leksikal), maka afiks yang masuk ke dalam bahasa indonesia pun harus demikian.
Dilihat dari distribusinya apabila afiks (peN-an) misalnya, mampu melekat pada bentuk dasar dari bahasa Indonesia asli dan bentuk dasar serapan, maka afiks asing yang masuk kedalam bahasa indonesia pun relatif harus mempunyai kemampuan demikian. Bentuk {-is} dalam pancasilais dan {-isasi} dalam turinisasi menunjukkan bahwa afiks asing itu telah menjadi keluarga bahasa Indonesia sebab afiks itu telah mampu melekat pada bentuk dasar bahasa Indonesia.
E.     JENIS MORFEM BERDASARKAN JUMLAH FONEM YANG MENJADI UNSURNYA
Dilihat dari jumlahnya, morfem-morfem itu ada yang berunsur satu fonem, tetapi ada juga yang berunsur lebih dari satu fonem.
morfem yang berunsur satu fonem disebut monofonemis. Misalnya morfem {-i} dalam memetiki dan {a-} dalam amoral.
morfem yang berunsur lebih dari satu fonem disebut polifonemis. Misalnya {an-},{di-},{ke-} (dua fonem), {ber-}, {meN-}, {dua}, {itu}, {api} (tiga fonem) {satu}, {daki} (empat fonem) {serta},{makin} (lima fonem) {bentuk},{sambil} (enam fonem) {cokelat} (tujuh fonem) {semboyan}, {kerontang} (delapan fonem) {penasaran}, {sederhana} (sembilan fonem) {malapetaka} (sepuluh fonem).
secara konkret, morfem yang monofonemis itu hanyalah morfem afiks, sedangkan morfem-morfem yang berjenis lain belum ada monofonemis.
F.      JENIS MORFEM BERDASARKAN KETERBUKAANNYA BERGABUNG DENGAN MORFEM LAIN
            Morfem-morfem bahasa Indonesia dalam pemakaiannya ada yang mempunyai kemungkinan bergabung dengan morfem lain tetapi ada juga yang tidak. Morfem {meN-}, {ber-}, dan {di-} misalnya : walaupun semuanya tergolong morfem {meN-} dan {ber-}mengawali bentuk kata, misalnya : menarik, mengerti, berlagu. Masih membuka kemungkinan digabungi morfem prefiks lain, dalam hal ini morfem prefiks (di-). Sehingga ketiga kata diatas menjadi dimenarikkan, dimengerti dan diberlakukan dalam kalimat sbb:
Contoh :
-          Supaya banyak pembelinya, model barang itu perlu dimenarikkan
-          Persoalan itu sudah lama dimengerti oleh Caca
Kata-kata yang sejenis lainnya juga demikian, misalnya kata aspek “sudah” dan “telah” yang tergolong bersinonim. Mempunyai keterbukaan yang berbeda dengan kata “dicabut, diinjak, dibingkai”. Kata ‘sudah’ dapat dibentuk menjadi konstruksi yang lebih besar dengan membubuhkan {di-i}. {meN-i} dan {ke-an}. Tetapi kata “telah” tidak demikian.

G.     JENIS MORFEM BERDASARKAN BERMAKNA DAN TIDAKNYA
1.      Kelompok Bermakna (Morfem Leksikal)
Contoh : Lapar, Lapor, Kuda, Merah
2.      Kelompok Tidak Bermakna (Tidak Mempunyai Makna/Sendiri/Gramatikal)
Contoh : ter, di, pen, se, I, an, el
“Terdakwa” Kata Ter- bermakna ‘yang di’
“Tertipu” Kata Ter- bermakna ‘dapat di’
“Terinjak” Kata Ter- bermakna ‘Tak sengaja di’
             

DAFTAR PUSTAKA :
Muslich, Masnur. 2010. Tata Bentuk Bahasa Indonesia : Kajian ke Arah Tatabahasa Deskriptif. Jakarta: Bumi Aksara.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar