RESUME MORFOLOGI
Dosen Pengampu : Diana Mayasari, M.Pd.
Nama : Kholifatur Riski Amalia
NIM : 166008 / PBSI 16C
A.
JENIS
MORFEM BERDASARKAN KEMAMPUAN BERDISTRIBUSI
Apabila
diteliti lebih lanjut, ternyata bentuk-bentuk linguistik antara satu dengan lainnya mempunyai sifat tertentu biasa. Kita ambil contoh
kutipan dialog antara bambang dan tarsa sebagai berikut.
Bambang : Wah! Dari mana kamu ?
Tarsan : Biasa. Orang kaya kok. Selalu urusan bisnis.
Bambang : Ha! Bisnis apa ? kemarin minta uang saya seibu rupiah sekarang bilang bisnis.
Tarsan : Kamu itu
bagaimana sih? Saya ini sudah lama terkenal sebagai direktur pabrik biting. Kamu dari mana ?
Bambang : Kuliah
Tarsan : Siapa yang
percaya? Modelnya kacau-balau begini dari kuliah.
Dari
contoh di atas, terlihat bahwa ada bentuk lingusitik yang mampu menduduki
kalimat dan ada yang selalu bergandeng dengan bentuk-bentuk lain dalam
menduduki kalimat.
Bahwa
“wah,
Biasa, ha, dan kuliah” pada contoh di atas mampu berdiri sendiri sebagai
kalimat, sedangkan kalimat-kalimat lainya terdiri atas lebih dari satu bentuk
linguistik. Misalnya kalimat “dari
mana kamu?” Terdiri atas bentuk “dari,
mana, dan kamu”, dan kalimat “selalu
urusan bisnis” terdiri atas bentuk “selalu,
urus-,
-an, dan bisnis”. Akan tetapi, apabila di buktikan lebih lanjut,
bentuk-bentuk yang menjadi unsur kedua kaimat terkir itu ada yang benar-benar tidak
mampu berdiri sendiri sebagai kalimat. Bentuk “mana, kamu dan bisnis” mampu berdiri sendiri sebagai kalimat, sebgaimana contoh
berikut.
Mana?
(Sambil mengulurkan tanganya ia bermaksud menagih uang yang dijanjikan kemarin).
Kamu.
(Sebagai jawaban atas pertanyaan “siapa yang bertaggung jawab atas kejadian
itu?”)
Bisnis.
(Sebagai jawaban atas pertanyaan: “kamu sedang urusan apa
dengan dia?”)
Bentuk-bentuk
yang dapat dipakai secara tersendiri dalam kalimat atau tuturan biasa disebut bentuk bebas atau free
from atau free morpheme. Berbeda dengan
itu, bentuk “dari,
urus, dan
–an” tidak pernah berdiri sendiri sebagai kalimat/tuturan
biasa, kecuali dalam tuturan biasa tersebut?
Dalam
bahasa indonesia, bentuk-bentuk yang berkondisi terakir ini ternata masih dapat
juga dikelompok-kelompokan lagi. Kita ambil contoh, misalnya bentuk “dari, urus dan, -an” di
atas. Ketiga bentuk itu sama-sama tidak dapat berdiri sendiri dalam tuturan
biasa, namun satu dengan yang lain mempunyai perbedaan. Bentuk “dari” dalam kalimat “dari
mana kamu?” dapat terpisah dengan unsur yang mengikutinya. Hal itu
terbukti dengan dapatnya disisipi bentuk lain, misalnya “arah”, di antara bentuk dari dan mana sehingga menjadi “dari arah mana kamu?” kondisi itu tidak dapat pada bentuk “urus- dan –an”. Antara bentuk “urus-
dan –an” pada kalimat “selalu
urusan bisnis” tidak dapat disisipi benyuk lain jenis apa pun. Kedua
bentuk terkhir ini benar-benar tidak dapat berdiri sendiri, baik dalam
kedudukanya sebagai kalimat maupun sebagai kata yang menjadi unsur pembentuk
kalimat. Bentuk-bentuk linguistik yang berkondisi seperti itu biasanya di sebut
sebagai bentuk terikat (bound from atau bound morpheme), sedangkan bentuk yang
masih mempunyai kebebasan, sebgaimana bentuk dari dikatakan sebagai bentuk bentuk
semibebas (Semi-free form atau semi free morpheme).
Pada
Kalimat terakhir
kutipan dialog di atas, terdapat bentuk yang mempunyai kemampuan lebih terika jika
dibandikan dengan bentuk lainya. Bentuk balau pada kalimat “Modelnya kacau balau begini dari
kuliah”. Selalu muncul bersama-sama dengan kacau. Akan tetapi,
bentuk kacau dapat digunakan tanpa bentuk balau. Salain itu, bentuk balau tidak
pernah berdistribusi bersama-sama dengan bentuk lain selain bentuk kacau.
Keadaan itu tidak dimiliki oleh bentuk kacau yang masih dapat berdistribusi
bersama-sama denganbentukselain bentuk balau, misalnya pengacu , sangat kacau,
sedangkacau, dan masih banyak lagi. Bentuk yang sangat terrikat itu,
sebagaimana bentuk balauu, disebut bentuk unik
atau unique form atau uniqie morpheme .
B.
JENIS
MORFEM BERDASARKAN PRODUKTIFITASNYA
Bentuk-bentuk
linguistik dapat dijelasakan atas dasar kemampuanya membentuk kata-kata.
Pengamatan ini biasanya dibatasi oleh morfem-morfem terikat khususnya afiks.
Dalam bahasa indonesia, ada morfem aktif/produktif membentuk kata-akata baru,
ada yang tidak produktif, bahkan ada yang sedang cenderung produktif dan tak
cenderung produktif. Misalnya morfem afiks {ke-, -an}. dengan morfem afiks ini, kita dapat membentu kata-kata baru sebanyak
banyaknya : keterlalauan, kesejahtaraan, keadilan, keikutsertaan, dsb. Lain
halnya dengan morfem afiks {ke-} dalam kata kekasih yang berarti yang di ..., dan berfungsi membedakan. Ia tidak lagi digunakan membuntuk kata-kata baru, kecuali
hanya bentuk bentuk yang sudah ada misalnya : kehandak dan ketua. Kondisi yang sama dialami oleh afiks {-em-},{-el-}, dan {-er-}, masing-masing dalam kata “gemetar, telunjuk dan gerigi”. (Samsuri. Morfologi
dalam pembentukan kata
1888:18)
kritika afiks itu
hanya mampu berprodukisi dalam bahasa melayu dahulu, tetapi dalam bahasa
indonesia sekarang sama sekalai tidak produktif. Morfem afiks mampu membentuk
kata-kata baru di sebut afiks produktive affix, sedangan yang sudah tidak mampu
lagi membentuk kata-kata baru disebut afiks yang tidak produkif (unproduktive
afikx).
Ada
juga morfem afiks yang saat ini cenderung mengikat pemakaianaya dalam
membuentuk kata-kata baru morfem afiks serapan (is) misalnya, dahulu hanya
bergandeng dengan bentuk dasar dari bahasa yang sama yaitu sama-sama dari
bahasa inggris tetapi sekarang dapat membentuk kata-kata baru yang membentuk kata dasar bahasa
inggris misalnya : Pancasilais selain ekonomis, selain rasionalis organisatoris.
Bagaimana dengan morfem (-isme), (-(n)isasi), dan morfem afiks serapan lainya
sebaliknya ada juga morfem afiks yang saat ini menurut pemakainya dalam
membentuk kata, kata baru. Misalnya morfem afiks (-ber) pada kalimat meraka
sedang bermain kelereng, cenderung dihilangkan pemakaianya sehingga cukup diucapkan dan distulis mereka sedang main kelereng.
C. JENIS MORFEM BERDASARKAN RELASI ANTAR UNSURNYA
Morfem-morfem
segmental dalam bahasa Indonesia, ada yang unsur-unsurnya merupakan satu
kesatuan yang tak terpisahkan dalam pemakaiannya, tetapi ada pula yang
sebaliknya.
Contoh : kalimat
kesuksesan selalu didambakan setiap manusia yang ingin maju.
Kalimat itu terdiri
dari delapan kata.
Masing-masingnya,
ada yang terdiri atas satu morfem, yaitu : (selalu) (manusia) (yang) (ingin)
(maju).
Ada yang terdiri
dari dua morfem, yaitu : kesuksesan, setiap; dan ada yang
terdiri atas dua morfem, yaitu : didambakan.
D. JENIS MORFEM
BERDASARKAN SUMBERNYA
1.
Bahasa
Indonesia Asli
Mofrem afiks yang berasal dari Bahasa Indonesia asli
digolongkan menjadi empat kelompok, yaitu :
Prefiks : {meN-},
{ber-}, {peN-}
Infiks : {-el-},
{-em-}, {-er-}
Sufiks : {-an},
{-kan}, dan {-i}.
Konfiks : {pe-an},
{ke-an}, {per-an}.
Apabila morfem
afiks yang berasal dari bahasa Indonesia asli hanya mempunyai arti gramatikal
saja (tidak mempunyai arti leksikal), maka afiks yang masuk ke dalam bahasa
indonesia pun harus demikian.
Dilihat dari
distribusinya apabila afiks (peN-an) misalnya, mampu melekat pada bentuk dasar
dari bahasa Indonesia asli dan bentuk dasar serapan, maka afiks asing yang
masuk kedalam bahasa indonesia pun relatif harus mempunyai kemampuan demikian.
Bentuk {-is} dalam pancasilais dan {-isasi} dalam turinisasi menunjukkan bahwa
afiks asing itu telah menjadi keluarga bahasa Indonesia sebab afiks itu telah
mampu melekat pada bentuk dasar bahasa Indonesia.
E. JENIS MORFEM BERDASARKAN JUMLAH FONEM YANG MENJADI
UNSURNYA
Dilihat
dari jumlahnya, morfem-morfem itu ada yang berunsur satu fonem, tetapi ada juga
yang berunsur lebih dari satu fonem.
morfem yang
berunsur satu fonem disebut monofonemis. Misalnya morfem {-i} dalam memetiki
dan {a-} dalam amoral.
morfem yang berunsur
lebih dari satu fonem disebut polifonemis. Misalnya {an-},{di-},{ke-} (dua
fonem), {ber-}, {meN-}, {dua}, {itu}, {api} (tiga fonem) {satu}, {daki} (empat
fonem) {serta},{makin} (lima fonem) {bentuk},{sambil} (enam fonem) {cokelat}
(tujuh fonem) {semboyan}, {kerontang} (delapan fonem) {penasaran}, {sederhana}
(sembilan fonem) {malapetaka} (sepuluh fonem).
secara konkret,
morfem yang monofonemis itu hanyalah morfem afiks, sedangkan morfem-morfem yang
berjenis lain belum ada monofonemis.
F.
JENIS MORFEM BERDASARKAN KETERBUKAANNYA
BERGABUNG DENGAN MORFEM LAIN
Morfem-morfem
bahasa Indonesia dalam pemakaiannya ada yang mempunyai kemungkinan bergabung
dengan morfem lain tetapi ada juga yang tidak. Morfem {meN-}, {ber-}, dan {di-}
misalnya : walaupun semuanya tergolong morfem {meN-} dan {ber-}mengawali bentuk
kata, misalnya : menarik, mengerti, berlagu. Masih membuka kemungkinan
digabungi morfem prefiks lain, dalam hal ini morfem prefiks (di-). Sehingga
ketiga kata diatas menjadi dimenarikkan, dimengerti dan diberlakukan dalam
kalimat sbb:
Contoh :
-
Supaya banyak pembelinya, model barang
itu perlu dimenarikkan
-
Persoalan itu sudah lama dimengerti oleh
Caca
Kata-kata
yang sejenis lainnya juga demikian, misalnya kata aspek “sudah” dan “telah”
yang tergolong bersinonim. Mempunyai keterbukaan yang berbeda dengan kata
“dicabut, diinjak, dibingkai”. Kata ‘sudah’ dapat dibentuk menjadi konstruksi
yang lebih besar dengan membubuhkan {di-i}. {meN-i} dan {ke-an}. Tetapi kata
“telah” tidak demikian.
G.
JENIS MORFEM BERDASARKAN BERMAKNA DAN TIDAKNYA
1.
Kelompok
Bermakna (Morfem Leksikal)
Contoh
: Lapar, Lapor, Kuda, Merah
2.
Kelompok Tidak Bermakna (Tidak Mempunyai
Makna/Sendiri/Gramatikal)
Contoh : ter, di, pen, se, I, an,
el
“Terdakwa” Kata Ter- bermakna ‘yang
di’
“Tertipu” Kata Ter- bermakna ‘dapat
di’
“Terinjak” Kata Ter- bermakna ‘Tak
sengaja di’
DAFTAR PUSTAKA :
Muslich, Masnur. 2010. Tata Bentuk Bahasa Indonesia : Kajian ke Arah Tatabahasa Deskriptif.
Jakarta: Bumi Aksara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar